Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Charles Toto Desak Dibentuknya Bank Benih Papua, Pangan Endemik Tak Boleh Punah
Advertisement . Scroll to see content

Proyek Penggalian Kerangka Prajurit Jepang Buka Jalan Diplomasi Kemanusiaan di Papua Barat Daya

Jum'at, 05 Juni 2026 | 07:38 WIB
  • author CHANRY SURIPATTY
Proyek Penggalian Kerangka Prajurit Jepang Buka Jalan Diplomasi Kemanusiaan di Papua Barat Daya
Kadis Pariwisata Pemprov PBD, Yusdi Lamatenggo. (FOTO : iNewssorongraya.id -CHAN)

 

SORONG, iNewssorongraya.id — Proyek pengumpulan dan identifikasi kerangka prajurit Jepang yang gugur pada Perang Dunia II membuka ruang diplomasi kemanusiaan antara Indonesia dan Jepang di Papua Barat Daya.

Kepala Dinas Pariwisata Papua Barat Daya, Yusdi Lamatenggo, mengatakan proyek tersebut tidak hanya berhubungan dengan penelusuran kerangka korban perang, tetapi juga menyangkut hubungan emosional keluarga prajurit Jepang dengan wilayah Papua Barat Daya.

“Terkait proyek pengumpulan dan identifikasi kerangka prajurit Jepang yang gugur pada Perang Dunia II. Jadi data dari Kementerian Kebudayaan itu lagi mengumpulkan database yang valid tentang lokasi-lokasi jenazah atau tulang belulang itu,” kata Yusdi.

Menurut Yusdi, Tim Gabungan Indonesia–Jepang telah melakukan inventarisasi awal di sejumlah wilayah, termasuk Tambrauw dan Manokwari. Tim masih mencocokkan data lapangan dengan dokumen resmi sebelum masuk ke tahap penggalian dan pemeriksaan DNA.

“Di Papua kemarin itu yang dikunjungi oleh Tim Gabungan Indonesia–Jepang kan di Kabupaten Tambrauw dan di Kabupaten Manokwari,” ujarnya.

Yusdi menjelaskan bahwa data valid menjadi dasar utama sebelum pemerintah dan tim gabungan melakukan pencarian lebih lanjut. Setelah lokasi terkonfirmasi, penggalian akan dilanjutkan dengan pencocokan DNA terhadap keluarga prajurit di Jepang.

“Dari data valid itulah baru akan dicari, akan melakukan penggalian dan dilakukan pencocokan DNA dengan keluarga yang ada di Jepang,” katanya.

Ia mengatakan proses tersebut akan dilaporkan kembali ke Jakarta melalui Kementerian Kebudayaan. Pemerintah juga akan menelusuri dokumen keluarga prajurit di Jepang untuk memastikan hubungan identitas dengan kerangka yang ditemukan di lapangan.

“Jadi memang tahapannya seperti itu, tahapannya sekarang kemarin mereka dari Jepang baru inventarisasi calon-calon lokasi yang punya prospek, kemudian nanti kembali ke Jakarta, dilaporkan lagi ke Kementerian Kebudayaan, dicari semua dokumen-dokumen lengkapnya penelusuran keluarga mereka,” ujar Yusdi.

Jika proses identifikasi berhasil, keluarga prajurit Jepang dapat datang langsung ke lokasi yang berkaitan dengan leluhur mereka. Yusdi menyebut kunjungan itu dapat menjadi bagian dari penghormatan keluarga terhadap korban perang.

“Bisa jadi mereka keluarga dari Jepang datang ke Tambrauw, datang ke Manokwari, datang ke Biak, kemudian bisa jadi abu itu atau kerangkanya dibawa kembali ke Jepang atau tetap disini. Tergantung dari kesepakatan,” katanya.

Yusdi menilai kedatangan keluarga prajurit Jepang ke Papua Barat Daya dapat memperkuat hubungan emosional kedua negara. Dari sisi daerah, momentum itu juga dapat membuka ruang baru bagi pengembangan wisata sejarah berbasis memori perang.

“Kita berharap Tambrauw bisa jadi destinasi wisata orang Jepang, minimal wisata keluarga yang punya hubungan emosional dengan Papua Barat Daya,” ujar Yusdi.

Menurut Yusdi, Papua Barat Daya memiliki posisi penting dalam sejarah Perang Dunia II. Wilayah pantai utara daerah ini pernah menjadi salah satu titik pertempuran pasukan Jepang dan Sekutu.

“Tidak boleh kita lupakan dulu perangnya dulu pasukan dari Tentara Sekutu dan Jepang itu di pantai utara Papua Bara Daya ini mereka aktif berperang zaman dulu,” katanya.

Ia mengatakan pemerintah daerah ingin mengemas jejak sejarah tersebut menjadi destinasi wisata memori. Konsep itu tidak hanya ditujukan bagi wisatawan Jepang, tetapi juga bagi masyarakat luas yang ingin memahami sejarah Perang Dunia II di Papua.

“Betul, jadi kita berharap ini jadi tempat memori kenangan, kenangan perang dunia,” ujar Yusdi.

Yusdi juga menyebut peninggalan perang di Papua Barat Daya tidak hanya berkaitan dengan Jepang. Menurutnya, peninggalan Sekutu, termasuk Amerika Serikat, juga banyak ditemukan di sejumlah wilayah.

“Ini baru bicara Jepang, kita baru bicara misalnya tentang tentara Amerika. Wah peninggalan juga banyak, Amerika punya juga banyak. Jadi ini semua ke depan akan kita bungkus menjadi destinasi wisata sejarah,” katanya.

Namun, Yusdi mengakui belum ada koordinasi khusus dengan pemerintah Amerika terkait peninggalan Sekutu. Sejauh ini, pihak Jepang menjadi negara pertama yang datang secara resmi setelah Papua Barat Daya terbentuk sebagai provinsi.

“Belum ada, jadi setelah kita disini jadi provinsi ini, baru pemerintah Jepang yang datang dan kita ketemu Pak Gubernur dan kita semua disini. Kita berharap juga tadi tidak hanya Jepang, tapi peninggalan sekutu juga banyak,” ujarnya.

Sebelumnya, Gubernur Papua Barat Daya Elisa Kambu menyatakan dukungan penuh terhadap proyek Tim Gabungan Indonesia–Jepang. Ia menilai kegiatan tersebut memiliki nilai kemanusiaan karena bertujuan memberikan kepastian kepada keluarga prajurit Jepang.

“Kami mendukung penuh kegiatan ini dan berharap dapat berjalan lancar serta memberikan hasil terbaik bagi keluarga prajurit,” ujar Elisa Kambu.

Elisa juga mengajak masyarakat untuk melaporkan jika menemukan dugaan kerangka prajurit di lapangan. Ia meminta masyarakat tidak mengubah kondisi temuan agar proses penelitian berjalan baik.

“Kami berharap masyarakat dapat melaporkan temuan kepada pihak terkait dan membiarkan kondisi tetap sebagaimana adanya agar proses penelitian dapat berjalan dengan baik,” ujarnya.

Proyek ini memperlihatkan bahwa sejarah perang tidak hanya meninggalkan luka, tetapi juga ruang pertemuan baru antara kemanusiaan, diplomasi, dan pembangunan daerah. Bagi Papua Barat Daya, kerja sama Indonesia–Jepang dapat menjadi awal penataan wisata sejarah yang lebih terarah dan bernilai ekonomi bagi masyarakat.

 

Editor: Hanny Wijaya

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut