Kakak Maxi Bless Minta Polisi Usut Dugaan Pembunuhan Berencana
.
KOTA SORONG, PBD — Kakak kandung Maxi Bless, Marten Bless, meminta kepolisian mengusut tuntas kematian adiknya yang diduga tidak sekadar kasus begal, tetapi memiliki kemungkinan unsur pembunuhan berencana.
Desakan itu disampaikan Marten seusai konferensi pers pengungkapan kasus pembunuhan Maxi Bless di Mapolresta Sorong Kota, Rabu sore (3/6/2026). Ia meminta penyidik tidak berhenti pada keterangan awal dua tersangka.
Menurut Marten, keluarga masih menyimpan kecurigaan terhadap motif kematian korban. Ia menduga peristiwa itu perlu ditelusuri lebih jauh, termasuk kemungkinan kaitannya dengan masalah keluarga korban.
“Kami percaya kepada kepolisian untuk membongkar kasus ini seterang-terangnya, dan kami minta kepada kepolisian kalau namanya begal wajahnya jangan diblur supaya masyarakat tahu betul ini orang-orang yang sangat jahat, lebih jahat dari narkoba dan sebagainya. Kita yang baik-baik saja ini tiba-tiba di jalan dibegal, dirampas nyawa kita,” ujarnya.
Marten juga meminta aparat kepolisian menindak tegas pelaku begal yang meresahkan warga Kota Sorong.
“Saya minta kepada Kapolda, Kapolres dan semua tim kerjanya agar benar-benar begal di Kota Sorong harus dimusnahkan,” imbuh Marten Bless.
Maxi Bless, seorang tenaga keamanan hotel, tewas setelah ditikam di Jalan Puncak Arfak, dekat SMP Negeri 1 Kota Sorong, Minggu dini hari, 26 April 2026. Dua tersangka, Yosep Tsunami Kabrahanubun alias Nami atau YTK alias N dan Falgentius Fara Heatubun alias Fara atau FFH alias F, telah ditangkap setelah buron sekitar satu bulan.
Polisi menyebut peristiwa bermula dari senggolan kendaraan antara korban dan pelaku. Namun, penyidik masih mendalami motif lengkap, termasuk kemungkinan keterlibatan pihak lain.
“Kedua tersangka beserta seluruh barang bukti saat ini sudah kami amankan di Polresta Sorong Kota untuk menjalani proses hukum lebih lanjut. Kami masih terus mendalami motif lengkap di balik kejadian ini, serta tidak menutup kemungkinan adanya keterlibatan pihak lain dalam kasus ini,” tegas Kompol Andy.
Pernyataan Marten menjadi tekanan moral bagi polisi untuk membuka perkara ini secara transparan. Di tengah keresahan warga atas kejahatan jalanan, penyidikan harus mampu menjawab dua hal sekaligus: siapa pelaku utama dan apakah ada aktor lain di balik kematian Maxi Bless.
Editor : Hanny Wijaya