Warga dan Aparat Bersihkan Stadion Lukas Enembe Usai Kerusuhan
JAYAPURA, iNewssorongraya.id – Pascakerusuhan yang pecah usai pertandingan play off Liga 2 antara Persipura Jayapura melawan Adhyaksa FC, ratusan warga dari Kota dan Kabupaten Jayapura turun langsung membersihkan kawasan Stadion Lukas Enembe, Minggu (10/5/2026). Aksi gotong royong yang melibatkan masyarakat, aparat TNI-Polri, dan aparatur sipil negara (ASN) itu menjadi simbol kepedulian bersama untuk memulihkan stadion kebanggaan Papua yang rusak akibat kericuhan.
Sejak pagi hari, kawasan stadion dipadati warga yang membawa sapu, sekop, karung, hingga alat kebersihan sederhana. Mereka bergabung membersihkan puing kendaraan yang hangus terbakar, pecahan material, serta sampah yang berserakan di sejumlah titik stadion pascainsiden ricuh yang terjadi setelah laga Persipura Jayapura kontra Adhyaksa FC.
Suasana stadion yang sebelumnya dipenuhi asap, bangkai kendaraan, dan sisa kerusakan perlahan berubah. Warga terlihat bergantian mengangkut puing, menyapu tribun, membersihkan jalur akses, hingga membantu evakuasi material terbakar di sekitar kompleks olahraga tersebut.
Keterlibatan masyarakat dalam aksi pembersihan itu dinilai menjadi bentuk kepedulian terhadap Stadion Lukas Enembe yang selama ini dikenal sebagai salah satu ikon olahraga modern di Tanah Papua. Stadion tersebut tidak hanya menjadi lokasi pertandingan sepak bola, tetapi juga simbol kemajuan infrastruktur olahraga di Papua.
Sejumlah personel TNI dan Polri tampak membantu proses pengamanan sekaligus evakuasi kendaraan roda dua maupun roda empat yang terbakar saat kerusuhan berlangsung. Sementara ASN dari berbagai instansi pemerintah turut membersihkan area stadion dan mengumpulkan material sisa kericuhan.
Warga yang ikut dalam kerja bakti berharap kondisi stadion segera pulih sehingga aktivitas olahraga dan kegiatan masyarakat dapat kembali berjalan normal. Mereka juga meminta seluruh pihak menjaga ketertiban agar insiden serupa tidak kembali terjadi pada pertandingan berikutnya.
“Saya datang karena ini stadion kebanggaan orang Papua. Jangan sampai rusak terus karena ulah kerusuhan,” ujar salah seorang warga yang ikut membersihkan area stadion.
Kerusuhan sebelumnya terjadi usai pertandingan Persipura Jayapura melawan Adhyaksa FC. Insiden itu menyebabkan puluhan kendaraan dibakar dan beberapa fasilitas di sekitar stadion mengalami kerusakan. Aparat kepolisian mengamankan sedikitnya 32 orang pelaku kericuhan serta tindak pidana yang terjadi pascapertandingan.
Dari 32 orang tersebut, 9 orang berpotensi sebagai tersangka, sementara yang lainnya telah dipulangkan pihak kepolisian dan dikenakan wajib lapora.
Di tengah proses hukum yang masih berlangsung, aksi gotong royong warga justru menghadirkan suasana berbeda. Solidaritas antara masyarakat, aparat keamanan, dan pemerintah daerah terlihat menjadi upaya bersama untuk mengembalikan wajah Stadion Lukas Enembe sebagai simbol kebanggaan olahraga Papua.
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Papua juga mengajak seluruh ASN terlibat dalam kerja bakti dan aksi pembersihan di kawasan stadion. Gubernur Papua, Matius D. Fakhiri, menegaskan kegiatan tersebut bukan sekadar membersihkan fasilitas umum, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan masyarakat Papua menjaga situasi tetap aman dan kondusif.
“Sehingga kegiatan tersebut bukan sekadar membersihkan stadion, tetapi juga menjadi simbol persatuan dan tanggung jawab bersama menjaga Papua tetap harmonis dan kondusif,” kata Matius dikutip dari Antara.
Menurut Matius, kerja bakti yang melibatkan ASN menjadi langkah awal pemulihan pascakerusuhan, baik dari sisi fasilitas fisik maupun kondisi sosial masyarakat. Ia menilai Stadion Lukas Enembe merupakan aset penting Papua yang harus dijaga bersama.
“Oleh sebab itu saya mengajak seluruh ASN hadir dan menunjukkan semangat gotong royong,” ujarnya.
Pembersihan stadion diperkirakan masih akan berlangsung hingga seluruh area benar-benar steril dari puing kerusuhan. Pemerintah daerah bersama aparat keamanan juga diharapkan memperkuat sistem pengamanan pada setiap pertandingan besar guna mencegah kerusuhan serupa kembali terjadi di kemudian hari.
Editor : Chanry Suripatty