Perang AS–Iran Picu Guncangan Global, Pariwisata Papua Barat Daya Terancam Lumpuh
SORONG KOTA, iNewssorongraya.id — Eskalasi konflik global yang melibatkan Amerika Serikat, Iran, dan Israel pada April 2026 mulai menunjukkan efek domino hingga ke daerah, termasuk sektor pariwisata Papua Barat Daya yang kini menghadapi tekanan serius akibat gangguan jalur penerbangan dan lonjakan harga tiket.
Konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah tidak hanya berdampak pada stabilitas geopolitik, tetapi juga merembet ke sektor ekonomi global, termasuk industri pariwisata Indonesia. Di Papua Barat Daya (PBD), dampak tersebut mulai terasa melalui penurunan mobilitas wisatawan mancanegara dan kenaikan biaya perjalanan.
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Papua Barat Daya, Yusdi Lamatenggo, menegaskan bahwa sektor pariwisata merupakan industri yang paling sensitif terhadap isu keamanan dan kesehatan.
“Kalau kita bicara pariwisata, ada dua hal yang paling ditakuti, yaitu aspek keamanan dan kesehatan. Kalau dua hal ini terganggu, pariwisata pasti langsung terdampak,” ujar Yusdi saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (13/4/2026).
Ia menjelaskan, pengalaman global seperti peristiwa bom Bali dan pandemi COVID-19 menjadi bukti konkret bahwa gejolak keamanan dan krisis kesehatan mampu melumpuhkan sektor pariwisata secara instan.
Dari laporan pelaku industri perjalanan, dampak konflik kini mulai dirasakan melalui perubahan perilaku wisatawan, khususnya dari Eropa yang menjadi pasar utama bagi Papua Barat Daya.
“Dari laporan teman-teman travel dan tour operator, sudah ada wisatawan yang melakukan reschedule. Mereka belum membatalkan, tapi menunda perjalanan karena situasi geopolitik,” jelasnya.
Gangguan utama terjadi pada jalur penerbangan internasional. Maskapai besar seperti Emirates, Qatar Airways, Etihad Airways, KLM, hingga British Airways yang biasa melintasi wilayah Timur Tengah kini harus menghindari zona konflik.
“Pesawat pasti mencari jalur aman. Akibatnya banyak penerbangan yang tertunda atau dijadwalkan ulang,” ucap Yusdi.
Situasi ini diperparah oleh meningkatnya ketegangan militer yang diwarnai ancaman rudal dan roket, sehingga ruang udara di kawasan tersebut menjadi berisiko tinggi bagi penerbangan sipil.
Selain gangguan rute, konflik juga memicu kenaikan harga bahan bakar avtur yang berdampak langsung pada tarif tiket pesawat, baik internasional maupun domestik.
Yusdi mengungkapkan bahwa harga tiket rute Jakarta–Sorong mengalami kenaikan signifikan dalam dua pekan terakhir.
“Rute Jakarta–Sorong yang biasanya di kisaran Rp 4,1 juta sampai Rp 4,2 juta, sekarang sudah di atas Rp 5 juta. Ini kenaikan yang cukup tinggi dan pasti memengaruhi minat wisatawan domestik,” ungkapnya.
Dalam laporan lain, bahkan disebutkan harga tiket yang sebelumnya berkisar Rp3 juta hingga Rp4 juta kini telah menembus angka Rp5 juta, mempersempit akses wisatawan menuju kawasan timur Indonesia.
Efek konflik tidak hanya dirasakan Indonesia. Destinasi global seperti Dubai juga dilaporkan mengalami penurunan aktivitas wisata.
“Saya baru dapat informasi di Dubai wilayah berjuluk kota dolar saja lumpuh, apalagi kita,” kata Yusdi.
Hal ini menunjukkan bahwa konflik berskala global memiliki efek berantai terhadap industri pariwisata dunia, terutama negara-negara yang bergantung pada konektivitas udara internasional.
Data sementara menunjukkan adanya penurunan kunjungan wisatawan asing ke Papua Barat Daya. Wisatawan yang sebelumnya didominasi oleh negara-negara Eropa dan Amerika Serikat kini mulai menunda perjalanan.
“Dari data yang saya peroleh ada beberapa wisatawan tiba-tiba jadwalkan ulang waktu kunjungan, sebab akses mereka masuk di Indonesia (Sorong) terganggu,” jelasnya.
Meskipun belum terjadi pembatalan massal, tren penjadwalan ulang dinilai sebagai sinyal awal melemahnya sektor pariwisata.
Yusdi menilai dampak saat ini masih dalam tahap awal, namun berpotensi memburuk jika konflik berlangsung lebih lama.
“Kita berharap ini tidak berlanjut lama. Kalau sampai satu bulan ke depan masih memanas, dampaknya pasti besar, baik secara ekonomi maupun pergerakan wisatawan,” paparnya.
Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah bersama pelaku industri terus memantau perkembangan global, termasuk melalui data imigrasi dan pergerakan wisatawan.
Meski tekanan mulai terasa, sektor pariwisata Papua Barat Daya dinilai masih memiliki peluang untuk pulih, mengingat sebagian besar wisatawan hanya menunda perjalanan, bukan membatalkan sepenuhnya.
“Kita berdoa dan berharap situasi ini segera mereda sehingga pariwisata bisa kembali normal dan bangkit,” imbuh Yusdi.
Konflik global kembali membuktikan bahwa stabilitas geopolitik memiliki dampak langsung hingga ke daerah. Bagi Papua Barat Daya, ketergantungan pada konektivitas udara internasional menjadikan sektor pariwisata sangat rentan terhadap gejolak dunia—dan jika eskalasi terus berlanjut, tekanan ekonomi di sektor ini dipastikan semakin dalam.
Editor : Hanny Wijaya