Dua Perwira Asli Tambrauw Jadi Kunci Penyerahan Diri 5 DPO, Konflik Berhasil Diredam Tanpa Tembakan
SORONG KOTA, iNewsSorongraya.id – Pendekatan humanis berbasis adat yang digerakkan aparat keamanan dari Kepolisian bersama Komnas HAM dan pemerintah daerah menjadi faktor penentu keberhasilan penyerahan diri lima daftar pencarian orang (DPO) kasus pembunuhan warga sipil di Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya.
Strategi tanpa kekerasan ini menandai perubahan signifikan dalam pola penanganan konflik di wilayah Papua yang selama ini identik dengan pendekatan represif.

Para DPO saat menyerahkan diri kepada Polisi. [FOTO : iNewssorongraya.id]
Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari peran sentral dua perwira Polri asli Tambrauw, yakni Kasat Sabhara Polres Tambrauw, Iptu Yusuf Yesnath dan Kapolsek Moraid, Iptu Peres Yewen. Keduanya menjadi aktor kunci dalam membuka jalur komunikasi dengan para terduga pelaku yang bersembunyi di wilayah hutan melalui pendekatan budaya dan relasi kekerabatan.
Penyerahan diri lima terduga pelaku berinisial GY, YY, MY, EY, dan KY berlangsung pada Jumat (3/4/2026) di Distrik Bamusbama. Proses tersebut merupakan hasil negosiasi panjang yang difasilitasi kedua perwira Polri bersama Komnas HAM Papua, Bupati Tambrauw Yeskiel Yesnath, DPRD setempat, dan kepala distrik.
“Pascaterbunuhnya nakes dan warga, kita diminta oleh masyarakat agar bisa terlibat aktif menurunkan eskalasi kekerasan di Kabupaten Tambrauw,” ujar Iptu Yusuf Yesnath dalam keterangannya.
Iptu Yusuf menegaskan, strategi yang diterapkan aparat berakar pada kearifan lokal Papua yang menjunjung tinggi nilai kekeluargaan dan adat istiadat.
“Dalam proses negosiasi, kami dari aparat Kepolisian mengajak keluarga dekat untuk membangun komunikasi dengan para DPO, melibatkan tokoh adat sebagai mediator utama dan memanfaatkan struktur sosial lokal guna menumbuhkan rasa aman dan kepercayaan,” ungkapnya.
Pendekatan tersebut dinilai lebih efektif karena selaras dengan karakter sosial masyarakat Papua yang kuat dalam hubungan kekerabatan serta penghormatan terhadap adat.
Sementara itu, Kapolsek Moraid Iptu Peres Yewen menekankan bahwa strategi dialogis yang ditempuh bertujuan utama menghindari konflik bersenjata.
“Pendekatan dialogis ini bertujuan utama menekan potensi konflik bersenjata. Kami dari aparat Kepolisian berupaya untuk menghindari kontak senjata, meminimalkan korban jiwa dan menjaga stabilitas keamanan wilayah,” ujarnya.
Setibanya di Mapolda Papua Barat Daya, kelima terduga pelaku langsung menjalani pemeriksaan kesehatan oleh tim Biddokkes sebelum memasuki tahap penyidikan di Direktorat Reserse Kriminal Umum. Mereka diterima oleh Direktur Reskrimum Kombes Pol Junov Siregar.
Keberhasilan ini menjadi indikator bahwa pendekatan humanis berbasis adat mampu menjadi solusi efektif dalam meredam konflik sosial di Papua. Selain menekan potensi kekerasan, strategi ini juga memperkuat kepercayaan antara aparat dan masyarakat.
Model penanganan yang diinisiasi dua perwira asli Tambrauw tersebut dinilai membuka ruang baru bagi pendekatan penegakan hukum yang lebih damai, berkelanjutan, dan berorientasi pada kemanusiaan, sekaligus menjadi preseden penting bagi penyelesaian konflik serupa di wilayah lain di Papua.
Editor : Hanny Wijaya