Tambrauw, Potret Indah Toleransi: Ketika Umat Nasrani Menyiapkan Buka Puasa bagi Umat Muslim

MORAID, iNewssorongraya.id - Tambrauw, sebuah kabupaten di Papua Barat Daya, menjadi saksi nyata dari harmoni dan toleransi antarumat beragama. Di tengah keberagaman, warga dari berbagai latar belakang hidup berdampingan dalam semangat persaudaraan. Momentum Ramadan kali ini memperlihatkan keindahan hubungan antaragama, di mana umat Nasrani dengan penuh kasih menyiapkan dan membagikan makanan berbuka puasa bagi umat Muslim.
Sejak pagi, warga Nasrani di berbagai kampung di Tambrauw sudah mulai sibuk. Mereka mengumpulkan bahan makanan tradisional khas Papua seperti umbi-umbian, sayur-mayur, papeda, serta ikan segar hasil tangkapan para nelayan setempat. Gotong royong menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi ini. Para pria membersihkan ikan, sementara para perempuan menyiapkan bahan makanan, memotong sayur, dan memasak dengan menggunakan kayu api. Tak ketinggalan, anak-anak juga ikut serta membawa kayu bakar dan membantu orang tua mereka.
Indahnya toleransi umat beragama di Kabupaten Tambrauw, ketika umat Nasrani dan Muslim bersama-sama menyiapkan menu buka puasa. [FOTO KOLASE : iNewssorongraya.id-CHAN]
Menu buka puasa yang disiapkan mungkin sederhana, tetapi kaya akan makna. Papeda, ikan bakar, pisang rebus, dan sayur kangkung menjadi santapan berbuka puasa yang disiapkan dengan penuh kehangatan oleh tangan-tangan warga Nasrani. Ketika waktu berbuka tiba, umat Muslim dan Nasrani duduk berdampingan, menikmati hidangan bersama, menegaskan bahwa keberagaman bukanlah penghalang untuk saling berbagi.
Endang Ernawati Waang, seorang tenaga medis asal Nusa Tenggara Timur yang bertugas di Distrik Mega, mengungkapkan rasa harunya melihat harmoni yang terjalin erat di Tambrauw. “Selama hampir dua tahun saya bertugas di sini, saya menyaksikan langsung betapa tingginya toleransi antarumat beragama. Saat umat Nasrani merayakan Natal atau Tahun Baru, umat Muslim ikut menjaga keamanan dan membantu jalannya ibadah. Begitu pula saat Ramadan, warga Nasrani turun tangan menyiapkan makanan berbuka puasa,” tuturnya.
Pendeta Yoppy Gaspers dari Jemaat GKI Silo di Distrik Mega mengungkapkan pengalaman serupa. “Sejak pertama kali bertugas di sini pada tahun 2020, saya melihat sendiri bagaimana hubungan antarumat beragama sangat erat. Tidak ada sekat pemisah antara warga Muslim dan Nasrani. Bahkan, dalam tradisi turun-temurun, ada silaturahmi yang terjalin erat saat hari besar keagamaan, di mana masing-masing komunitas ikut membantu satu sama lain,” katanya.
Hal senada juga disampaikan oleh Mama Vera Yunita, seorang warga Nasrani setempat. Ia menegaskan bahwa hubungan erat ini telah ada sejak zaman nenek moyang mereka. “Di sini, kami tidak menunggu diminta tolong. Jika ada kegiatan keagamaan di masjid atau gereja, kami langsung datang dan ikut berpartisipasi. Hari ini, kami berkumpul untuk menyiapkan buka puasa bagi saudara-saudara Muslim kami, sama seperti mereka membantu kami saat Natal,” ujarnya.
Risma Kapitan, seorang warga Muslim yang lahir dan besar di Tambrauw, juga membagikan pengalamannya. “Dari dulu sampai sekarang, hubungan antara umat Muslim dan Nasrani di sini tetap terjaga. Kami selalu saling membantu tanpa memandang agama. Jika ada perayaan di gereja, umat Muslim turut serta, begitu juga sebaliknya. Kami ingin menunjukkan bahwa Indonesia yang sesungguhnya ada di tanah Papua, tempat di mana toleransi beragama begitu dijunjung tinggi.” ungkapnya.
Kabupaten Tambrauw juga menjadi contoh bagaimana masyarakat bisa hidup dalam kedamaian setelah melalui berbagai tantangan. Wilayah yang sempat mengalami gangguan keamanan dari kelompok kriminal bersenjata kini kembali aman dan damai. Sinergi antara masyarakat, TNI, dan Polri menjadi kunci utama dalam menjaga ketenteraman di daerah ini.
Kapolsek Tambrauw, Ipda Dadang Ismail, mengapresiasi keharmonisan masyarakat Tambrauw. “Kami terus berupaya menjaga keamanan bersama masyarakat. Sinergi antara TNI, Polri, dan warga menjadi kunci utama dalam menjaga kedamaian di wilayah ini. Tingkat toleransi antarumat beragama di Tambrauw sangat luar biasa, dan itu yang harus kita jaga bersama,” ujarnya.
Pemandangan di Kabupaten Tambrauw menjadi cerminan bagaimana keberagaman bisa menjadi kekuatan. Gereja dan masjid berdiri berdampingan, menjadi simbol nyata dari harmoni yang terjalin di antara warganya. Anak-anak bermain dengan ceria di desa-desa, menandakan bahwa generasi mendatang akan tetap mewarisi nilai-nilai toleransi ini.
Dari Tambrauw, kita belajar bahwa perbedaan bukanlah hal yang harus dipertentangkan, melainkan dirayakan dengan kasih dan kebersamaan. Tradisi berbagi yang dilakukan oleh umat Nasrani di bulan Ramadan bukan sekadar tindakan sosial, tetapi wujud dari nilai luhur yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di tengah pesatnya modernisasi dan perkembangan teknologi, masyarakat Tambrauw tetap mempertahankan warisan berharga ini. Mereka membuktikan bahwa keharmonisan antaragama bukan hanya sekadar wacana, melainkan kenyataan yang hidup dan terus berkembang.
Semoga kisah ini menjadi inspirasi bagi seluruh masyarakat Indonesia, bahwa cinta kasih dan toleransi adalah kunci untuk menjaga persatuan di negeri ini. Dari Kabupaten Tambrauw, kita melihat wajah sejati Indonesia: damai, rukun, dan penuh kasih sayang.
Editor : Hanny Wijaya