SORONG KOTA, iNewssorongraya.id — Raja Ampat kehilangan salah satu sosok yang ikut meletakkan fondasi perkembangan pariwisata pulau Piaynemo. Elimelek Dimara, atau yang akrab disapa Bapa Eli, meninggal dunia di Sorong pada 24 Agustus 2026 setelah sakit. Ia meninggalkan jejak panjang sebagai perintis wisata yang membawa pesona Piaynemo semakin dikenal hingga mancanegara.
Dari catatan keluarga, Elimelek lahir di Paam, Raja Ampat, pada 4 Maret 1951. Setelah menempuh pendidikan di Sorong, Biak, dan Jayapura, ia menjalani karier di sejumlah perusahaan di Papua dan luar Papua sebelum memilih kembali ke tanah kelahirannya untuk mengembangkan potensi wisata Raja Ampat.
Pilihan itu mulai diwujudkannya pada September 2011. Setelah pensiun, Elimelek merintis pembangunan homestay di kawasan Groot Fam, Saukabu, Kepulauan Waigeo Barat. Usaha tersebut kemudian beroperasi penuh pada 2013.
Ketua DPD ASITA Papua Barat Daya, Yulius Ricky Soeharto didampingi pengurus DPD ASITA saat melayat ke rumah duka.
Dalam proses pengembangan kawasan itu, Elimelek bersama tokoh masyarakat Yesaya Mayor menemukan dan mengenali lebih jauh pesona Puncak Piaynemo. Dari titik tersebut, keyakinannya terhadap potensi kawasan wisata itu semakin kuat.
Ia kemudian mendorong Piaynemo sebagai destinasi wisata dengan mempertimbangkan akses yang relatif dekat dari Sorong. Upaya tersebut mendapat sambutan wisatawan domestik maupun mancanegara dan ikut mendorong kawasan itu menjadi salah satu tujuan utama di Raja Ampat.
Semasa hidup, Elimelek juga menjelaskan asal-usul nama Piaynemo. Menurut penuturannya, istilah tersebut berasal dari bahasa Biak dan merujuk pada bentuk yang menyerupai sambungan antara bagian kepala dan gagang tombak atau harpun.
Dari kejauhan, gugusan pulau di kawasan tersebut tampak seperti bagian ujung tombak yang terputus. Seiring kapal mendekat, bentuk gugusan pulau itu terlihat semakin menyatu. Karakter alam tersebut menjadi salah satu daya tarik visual yang membuat Piaynemo mudah dikenali.
Perjalanan Elimelek tidak berhenti pada pengembangan wisata. Ia juga dikenal sebagai sosok yang memperjuangkan kelestarian kawasan tersebut.
Ketua DPD ASITA Papua Barat Daya, Yulius Ricky Soeharto, menyebut Elimelek sebagai tokoh penting dalam perkembangan pariwisata sekaligus pejuang konservasi Raja Ampat.
“Beliau adalah sosok pahlawan pariwisata dan pejuang konservasi, beliau sudah banyak menentang tambang-tambang yang akan dibuka di area tersebut dan selalu ramah terhadap wisawatan, geliat pariwisata di Pianemo tidak lepas dari visi beliau,”ungkap Ricky kepada iNewssorongraya.id, Rabu (26/8/2026).
Yulius mengatakan pelaku industri pariwisata di Papua Barat Daya turut berduka atas kepergian Elimelek. DPD ASITA bersama Asosiasi Speedboat, HPI, dan pelaku wisata lainnya juga membantu menyediakan satu unit boat untuk menunjang proses pemakaman.
Bantuan tersebut berkaitan dengan wasiat Elimelek yang ingin dimakamkan di Piaynemo, kawasan yang menjadi bagian penting dari perjalanan hidup dan perjuangannya mengembangkan pariwisata Raja Ampat.
Sejak 2019, kondisi kesehatan membuat Elimelek harus beristirahat total. Pengelolaan homestay kemudian diteruskan anak-anaknya hingga sekarang.
Suasana persemayaman Almarhum Bapak Elimelek Dimara di rumah duka.
Warisan Elimelek kini jauh melampaui sebuah usaha homestay. Piaynemo berkembang menjadi ikon pariwisata Raja Ampat, pernah dikunjungi Presiden RI ke-7 Joko Widodo, dan citranya bahkan hadir pada pecahan uang Rp100.000.
Dari informasi yang diterima Redaksi iNewssorongraya.id, prosesi pemakaman Elimelek dijadwalkan berlangsung di Piaynemo pada Kamis, 27 Agustus 2026. Rombongan keluarga dan pelayat akan berangkat dari Sorong menggunakan boat menuju Piaynemo. Setelah ibadah pelepasan dan kunjungan masyarakat, jenazah dijadwalkan dimakamkan di kawasan Bukit Pianemo sekitar pukul 15.00 WIT.
Kepergian Bapa Elimelek meninggalkan pertanyaan besar tentang siapa yang akan meneruskan visi menjaga Piaynemo agar pertumbuhan pariwisata tidak menggerus alam yang menjadi kekuatan utamanya. Namun satu hal telah tercatat: sebelum Piaynemo dikenal dunia, ada Elimelek Dimara yang lebih dahulu melihat nilainya dan memilih memperjuangkannya.
Selamat jalan, Bapa Elimelek. Jejakmu tertinggal di antara gugusan karst Piaynemo dan denyut pariwisata Raja Ampat.
Editor : Hanny Wijaya
Artikel Terkait
