Bentrok Berdarah di Kota Agats, 8 Warga Tertembak dan Rumah Warga Dirusak Massa

ABDUL TRIBRATA
Kolase foto bentrok warga di Kota Agast, Kabupaten Asmat, Papua Selatan. (FOTO : IST)

 

 

AGATS, iNewssorongraya.id – Bentrokan antarkelompok warga di Kota Agats, Kabupaten Asmat, Papua Selatan, kembali memanas hingga berujung pada aksi pengrusakan rumah, penutupan aktivitas ekonomi warga, dan jatuhnya korban luka tembak. Sedikitnya delapan orang dilarikan ke rumah sakit setelah terkena tembakan senapan angin jenis PCP dalam aksi saling serang yang berlangsung sejak akhir pekan hingga Senin (11/5/2026).

Dari informasi yang diterima Redaksi iNewssorongraya.id, kerusuhan tersebut dipicu konflik antarpemuda yang bermula dari sebuah acara ulang tahun di Kompleks Mimika, Sabtu (9/5/2026) malam. Perselisihan itu kemudian meluas dan menyeret kelompok warga dari Kompleks Pelabuhan Lama serta Pelabuhan Ferry hingga memicu bentrokan massal di sejumlah titik di Distrik Agats.

Situasi memuncak pada Minggu malam dan berlanjut hingga Senin pagi. Massa dilaporkan melakukan penyerangan menggunakan bom molotov dan senapan angin PCP. Sejumlah rumah di Jalan Mimika mengalami kerusakan parah akibat amukan massa.

Informasi lainnya menyebutkan, sejumlah warga merusak beberapa rumah. Warga sekitar dilaporkan panik dan memilih menutup kios maupun toko di kawasan Jalan Mimika dan Jalan Dolog demi menghindari bentrokan susulan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, kelompok massa yang terlibat bentrok berasal dari beberapa kampung yang bermukim di sekitar Kompleks Pelabuhan Lama. Konflik awal antara pemuda Mimika dan pemuda Yufri kemudian berkembang menjadi pertikaian terbuka antarkelompok warga.

Kapolres Asmat AKBP Wahyu Basuki mengatakan, bentrokan yang terjadi merupakan dampak lanjutan dari kericuhan pada Sabtu malam.

“Situasi sempat memanas karena massa menggunakan bom molotov dan senapan angin PCP untuk menyerang lawan,” ujar Wahyu Basuki dalam keterangan tertulis, Senin.

Menurut Kapolres, aparat kepolisian langsung diterjunkan untuk mengendalikan situasi dan mencegah meluasnya aksi balasan antarkelompok warga.

Ia mengungkapkan, delapan warga yang didominasi usia remaja dan dewasa muda menjadi korban dalam bentrokan tersebut. Tiga di antaranya mengalami luka tembak di bagian kepala.

“Tercatat delapan warga yang didominasi usia remaja dan dewasa muda menjadi korban. Korban berinisial PW, SOS, dan NR dilaporkan mengalami luka tembak di bagian kepala. Sementara korban lainnya mengalami luka di bagian dada, lengan, dan kaki. Saat ini seluruh korban tengah menjalani perawatan intensif oleh tim medis di RS Perpetua J. Safanpo,” katanya.

Selain menimbulkan korban luka, bentrokan itu juga membuat aktivitas masyarakat di pusat Kota Agats lumpuh sementara. Sejumlah toko dan kios memilih tutup karena khawatir bentrokan kembali pecah sewaktu-waktu.

Hingga Senin siang, aparat kepolisian masih melakukan patroli intensif di sejumlah titik rawan konflik, khususnya di kawasan Jalan Bhayangkara, Kompleks Mimika, Pelabuhan Lama, dan Pelabuhan Ferry.

Polisi juga dilaporkan terus memburu pihak-pihak yang diduga terlibat dalam aksi pengrusakan maupun penyerangan menggunakan senjata rakitan dan bom molotov.

Meski situasi mulai berangsur kondusif, sebagian warga masih memilih bertahan di dalam rumah. Aktivitas ekonomi di beberapa titik belum sepenuhnya pulih karena masyarakat masih diliputi rasa takut.

Kapolres Asmat meminta masyarakat tidak mudah terprovokasi isu-isu yang berkembang di media sosial maupun informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya.

“Kepolisian Resor Asmat mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh isu-isu yang dapat memperkeruh suasana,” tegas Wahyu Basuki.

Ia juga meminta tokoh masyarakat, tokoh adat, dan tokoh pemuda ikut turun tangan menenangkan warga masing-masing agar konflik tidak berkembang menjadi bentrokan berkepanjangan.

Bentrok di Agats ini kembali menyoroti tingginya potensi konflik sosial antarkelompok pemuda di wilayah Papua Selatan yang kerap dipicu persoalan sepele, namun berkembang menjadi kekerasan massal karena lemahnya mediasi di tingkat komunitas.

Di tengah situasi yang masih rentan, aparat keamanan kini berpacu menjaga stabilitas keamanan agar aktivitas masyarakat di ibu kota Kabupaten Asmat dapat kembali normal dan tidak memicu korban lebih besar.

 


 

 

 

Editor : Chanry Suripatty

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network