Keberadaan unit ini membuka akses lebih cepat bagi pasien yang membutuhkan transfusi tanpa ketergantungan pada daerah lain. Dukungan alat kesehatan berasal dari skema Otsus, APBD Provinsi, dan APBD Kota, memperkuat integrasi pendanaan lintas level pemerintahan.
RS Sele Be Solu saat ini diperkuat 30 dokter spesialis dan dua subspesialis. Kombinasi peningkatan infrastruktur dan kesiapan tenaga medis menjadi fondasi penting untuk menekan angka rujukan keluar daerah.
Direktur RS berharap dukungan pemerintah daerah tetap berlanjut, terutama dalam aspek kesejahteraan tenaga medis.
“Kami berharap pihak RS dapat terus meningkatkan sarana dan prasarana agar dokter dapat bekerja dengan tenang dan tidak kalah dengan rekan mereka di pusat, serta mendapatkan perhatian dari pemerintah provinsi dan kota terkait kesejahteraan tenaga medis,” pungkasnya.
Selain dua gedung utama, satu unit kendaraan operasional juga akan segera diresmikan untuk menunjang mobilitas layanan. Pemerintah menilai penguatan fasilitas ini sebagai investasi jangka panjang di sektor kesehatan, sekaligus upaya menjawab tantangan urbanisasi dan peningkatan kebutuhan layanan medis.
Dengan tambahan kapasitas, unit darah mandiri, ruang VIP, serta kesiapan tenaga spesialis, RS Sele Be Solu kini berada di fase transformasi menuju rumah sakit rujukan yang lebih mandiri dan modern di wilayah Papua Barat Daya.
Editor : Hanny Wijaya
Artikel Terkait
