get app
inews
Aa Text
Read Next : Hari Kedua PAPEDA Summit 2026: Pembangunan Papua Tak Bisa Lagi Mengabaikan Hak Masyarakat Adat

PAPEDA Summit 2026: Marlince Siep Desak Pembangunan Papua Berangkat dari Suara Adat

Kamis, 03 September 2026 | 18:57 WIB
header img
Marlince Siep bersama Komunitas Besar Nyiwerek asal Provinsi Papua Pegunungan saat melayani pengunjung di stan pameran Papeda Expo, Papeda Summit 2026 di Kota Sorong.

 

SORONG, iNewssorongraya.id — Aktivis perempuan adat Papua, Marlince Siep, berharap PAPEDA Summit 2026 tidak mengulang pola pembangunan yang dirancang dari pusat, tetapi menjadikan suara masyarakat adat sebagai pijakan utama dalam menentukan arah pembangunan Tanah Papua.

Harapan itu disampaikan Marlince saat mendampingi komunitas Nyiwerek dari Papua Pegunungan dalam PAPEDA Summit Expo 2026 di Kota Sorong. Menurutnya, pembangunan Papua harus disusun berdasarkan kebutuhan masyarakat di tingkat akar rumput, sekaligus memastikan tanah, manusia, budaya, dan kekayaan kearifan lokal tetap terlindungi.

“Kami punya harapan dengan Papeda Summit 2026 ini sendiri, apa yang nanti mau dibuat ke depan itu setidaknya tidak dari kacamata dari Pemerintah Pusat melihat ke daerah. Tapi harus disesuaikan secara konteksual,”ungkap Marlince Siep saat berbincang-bincang dengan Pemred iNewssorongraya.id, Chanry Suripatty, Kamis (3/9/2026).

Marlince menilai pendekatan pembangunan yang hanya membawa kebijakan dari pemerintah pusat berisiko mengabaikan kebutuhan dan karakter masyarakat di daerah. Karena itu, aspirasi masyarakat adat, menurut dia, harus menjadi dasar sebelum sebuah kebijakan pembangunan diterapkan.

“Masyarakat mau apa harus lihat dulu dari bawah. Jadi jangan dari atas (Pemerintah Pusat)  punya mau yang diturunkan. Tapi harus bagaimana dari bawah,”ujar Marlince.

Ia juga mengingatkan agar pembangunan ekonomi tidak membuat pelestarian budaya Papua tersisih. Kemajuan, kata Marlince, tidak semestinya diukur hanya dari pertumbuhan ekonomi dan pembangunan fisik, tetapi juga dari kemampuan menjaga identitas masyarakat adat.

“Tidak boleh dari kacamata Jakarta melihat semua persoalan di Papua ini. Harus dari melestarikan budaya,”ungkapnya.

Menurut Marlince, kekhawatiran tersebut muncul karena dorongan terhadap pembangunan sering kali tidak berjalan seimbang dengan upaya mempertahankan budaya lokal. Padahal, budaya dan masyarakat adat memiliki hubungan erat dengan tanah serta lingkungan tempat mereka hidup.

“Kita sering tuh maunya sesuatu berkembang. Tetapi kita tidak menjaga melestarikan budaya. Itu yang kita takutkan,”ujarnya.

Ia menegaskan tanah Papua tidak dapat dipandang sekadar sebagai ruang pembangunan atau sumber daya ekonomi. Bagi masyarakat adat, tanah menjadi bagian penting dari keberadaan manusia, identitas budaya, serta keberlangsungan kearifan lokal.

“Karena selain barang-barang ini mewakili manusia Papua. Mewakili manusia adat. Masyarakat adat,”ungkapnya.

“Jadi di atas barang-barang ini semua bisa ada tuh di atas tanah. Jadi satu paket itu tanah tuh harus dijaga dilindungi dengan berbagai macam cara. Sehingga manusia yang ada disitu menjadi aset yang harus dipelihara, serta semua kekayaan kearifan lokal yang ada,”tambahnya.

Membawa Produk, Sekaligus Membawa Identitas

Pesan tersebut tidak hanya disampaikan melalui forum diskusi. Marlince bersama komunitas Nyiwerek membawa berbagai produk dan representasi budaya masyarakat Papua Pegunungan ke PAPEDA Expo.

Produk yang ditampilkan antara lain kopi dari Kabupaten Lanny Jaya, madu hasil budidaya sekolah adat, noken, sali, holim, koteka, aksesori, kalung hingga mahkota kepala.

“Dalam Papeda Summit 2026 ini, kemudian kita datang dengan satu komunitas Nyiwerek, di dalamnya itu ada berbagai macam komunitas, jadi kami datang dengan berbagai produk, ada kopi yang dibawa oleh teman-teman Kabupaten Lanny Jaya, dari bio ada, kemudian ada madu dari teman-teman sekolah adat, mereka budidaya sendiri. Kemudian dengan busana, noken, sali, ada holim, koteka, ada aksesoris, kalung dan lain-lain. Kemudian ada mahkota kepala dan lain-lain,”bebernya.

Bagi komunitas tersebut, kehadiran di PAPEDA Expo bukan sekadar memasarkan produk lokal. Mereka juga membawa misi edukasi mengenai identitas dan penggunaan perlengkapan budaya secara tepat.

“Kita selain bawa ini (asesoris Papua Pegunungan) kita juga edukasi. Edukasi dalam cara penggunaan asesoris yang benar. Karena sering itu ada diantara kita yang salah pakai, mahkota perempuan yang mana, laki-laki yang mana, itu yang kita sekalian datang satu paket,”ungkapnya.

Nyiwerek, yang disebut Marlince berarti “tuan rumah”, menjadi wadah berbagai komunitas yang bergerak dalam pelestarian budaya, pengembangan ekonomi masyarakat, hingga penguatan ekowisata berbasis komunitas.

“Kami dari LSM Komunitas, kami punya kelompok besar itu Nyiwerek. Nyiwerek itu artinya tuan rumah,”imbuhnya.

Keterlibatan tersebut mencakup mama-mama pengrajin, sekolah adat, jaringan perempuan adat, jaringan kampung budaya, serta kelompok yang mengembangkan potensi wisata dan produk lokal.

“Ini dari mama-mama yang saat ini ada menampilkan kerajinan tangan mereka yang berbentuk asesoris tadi. Sementara yang kami bawa ini ada dari sekolah adat. Sekolah adat ini, mereka ada punya enam sekolah adat, dimana mereka sudah belajar berbagai macam hal untuk melestarian budaya,”bebernya.

“kemudian ada jaringan perempuan adat, kemudian ini dari 12 objek wisata, jaringan kampung budaya. Jadi itu kami semua ada di dalam komunitas itu. Ada teman-teman dari Embun juga yang bawa kopi dan lain-lain, seperti itu,”tandasnya.

Menunggu Pembuktian PAPEDA Summit

PAPEDA Summit 2026 berlangsung di Kota Sorong pada 2–4 September 2026 dan mempertemukan pemerintah, masyarakat adat, organisasi masyarakat sipil, akademisi, sektor swasta, lembaga riset, mitra pembangunan, serta komunitas internasional.

Forum bertajuk Papua Action for Development, Economy, and Sustainable Nature tersebut mengangkat lima isu strategis, mulai dari penyelarasan kebijakan pusat dan daerah untuk pembangunan berkelanjutan dan aksi iklim, pengakuan serta perlindungan hak masyarakat adat, ekonomi alam baru, kedaulatan pangan dan energi, hingga integrasi ilmu pengetahuan, inovasi, dan kearifan lokal melalui pendekatan ridge-to-reef.

Rangkaian agenda terdiri atas lima sesi pleno dan 15 sesi paralel dengan sekitar 100 pembicara dan moderator dari berbagai sektor. PAPEDA Expo serta kunjungan lapangan ke kawasan hutan adat, ekowisata, dan berbagai inisiatif berbasis komunitas turut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan.

Di tengah besarnya agenda tersebut, suara Marlince menempatkan satu pertanyaan penting sebagai ukuran keberhasilan forum: apakah hasil PAPEDA Summit benar-benar akan kembali kepada masyarakat yang hidup di atas tanah adat, atau berhenti sebagai kesepakatan di ruang forum?

Harapan perempuan adat Papua itu pada akhirnya bukan sekadar meminta masyarakat dilibatkan dalam pembangunan. Ia mendorong agar masyarakat adat ditempatkan sebagai subjek yang ikut menentukan arah pembangunan, sementara tanah dan budaya tidak dikorbankan atas nama pertumbuhan ekonomi.

Bagi Papua, pembangunan yang berkelanjutan bukan hanya tentang seberapa cepat daerah berkembang, tetapi juga tentang siapa yang menentukan arah perubahan dan apa yang tetap terlindungi ketika pembangunan berlangsung.

Editor : Hanny Wijaya

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut