get app
inews
Aa Text
Read Next : PAPEDA Summit 2026: Ekowisata Papua Jangan Jadi Label Baru Eksploitasi Alam

Dua Desa Wisata Papua Barat Daya Disiapkan Jadi Model Ekowisata Tanah Papua

Kamis, 03 September 2026 | 05:12 WIB
header img
Kadis Parekraf Pemprov Papua Barat Daya, Yusdi Lamatenggo.

 

 

SORONG KOTA, iNewssorongraya.id – Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya menetapkan Desa Wisata Klaogin di Kabupaten Sorong Selatan dan Desa Wisata Friwen di Kabupaten Raja Ampat sebagai fokus pengembangan ekowisata pada 2026.

Dua desa tersebut disiapkan menjadi contoh pengembangan pariwisata yang menempatkan masyarakat lokal sebagai pengelola utama sekaligus penjaga lingkungan di sekitar destinasi.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Papua Barat Daya, Yusdi Nurdin Lamatenggo, mengatakan pengembangan ekowisata di daerahnya dilakukan secara bertahap melalui desa wisata.

“Kita pelan-pelan. Strateginya kita mulai dari pengembangan desa wisata dulu,” jelasnya dalam rangkaian PAPEDA Summit 2026 di Kota Sorong, Rabu (2/9/2026).

Yusdi menyebut hampir seluruh kabupaten dan kota di Papua Barat Daya telah memiliki desa wisata unggulan. Namun, pemerintah daerah pada tahun ini memusatkan perhatian pada dua desa yang dinilai berpotensi menjadi model pengembangan ekowisata.

“Kita sudah banyak. Hampir semua kita punya desa wisata unggulan dan tahun ini memang kita ada dua unggulan, yaitu Klaugin (Kabupaten Sorong Selatan) dan Friwen (Kabupaten Raja Ampat),” ungkap Yusdi.

Pengembangan desa wisata menjadi penting karena memberi ruang bagi masyarakat untuk terlibat langsung dalam penyediaan homestay, jasa pemandu, transportasi, kuliner, kerajinan, serta kegiatan wisata berbasis budaya dan alam.

Model tersebut juga diharapkan membuat manfaat ekonomi dari kunjungan wisatawan tetap berputar di kampung, bukan hanya dinikmati oleh pelaku usaha besar di luar daerah.

PAPEDA Summit 2026 mendorong konsep ekonomi alam baru, yaitu pemanfaatan kekayaan alam secara berkelanjutan tanpa merusak ekosistem. Dalam sektor pariwisata, pendekatan itu menuntut pengelolaan desa wisata yang memperhatikan batas daya dukung lingkungan, perlindungan kawasan adat, serta peran kearifan lokal.

Yusdi mengatakan pemerintah telah mengimbau seluruh kabupaten dan kota di Papua Barat Daya untuk mulai mengembangkan ekowisata sesuai karakter wilayah masing-masing.

“Kita berharap setelah summit ini, semua provinsi, semua kabupaten, kota mulai terus mendorong pengembangan ekowisata,” ujarnya.

Tantangan berikutnya adalah memastikan dua desa unggulan tersebut tidak sekadar menjadi destinasi promosi. Pengelolaan yang efektif, keterlibatan warga, perlindungan alam, dan pembagian manfaat yang adil akan menentukan apakah Klaogin dan Friwen benar-benar menjadi rujukan ekowisata Papua.

“Harapan kami memang hasil dari kegiatan selama tiga hari ini bisa berdampak kepada makin efektifnya pengelolaan desa wisata atau ekowisata di Papua Barat Daya,” pungkasnya.

 

Editor : Hanny Wijaya

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut