get app
inews
Aa Text
Read Next : Raja Ampat Dorong Regulasi Ketat, Pariwisata Tak Boleh Korbankan Hak Warga

Wisatawan Melonjak, Raja Ampat Perketat Arah Ekowisata Berkelanjutan

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 13:20 WIB
header img
Pariwisata Raja Ampat menghadapi tantangan menjaga kelestarian ekosistem di tengah meningkatnya kunjungan wisatawan.

 

 

WAISAI, iNewssorongraya.idLonjakan wisatawan di Raja Ampat mulai menghadirkan persoalan serius bagi keberlanjutan ekosistem. Sampah, kerusakan terumbu karang akibat lego jangkar, kapal kandas, limbah cair hingga penumpukan pengunjung di sejumlah destinasi menjadi tantangan yang kini mendapat perhatian bersama.

Raja Ampat merupakan kawasan konservasi yang berada di jantung Segitiga Karang Dunia sekaligus UNESCO Global Geopark. Kondisi tersebut membuat peningkatan aktivitas pariwisata harus diimbangi dengan pengelolaan yang mampu menjaga daya dukung lingkungan.

Pemerintah Kabupaten Raja Ampat bersama masyarakat adat, mitra pembangunan, akademisi dan pelaku usaha merespons persoalan tersebut melalui Forum Mitra Pembangunan Berkelanjutan Raja Ampat. Forum yang dibentuk melalui Surat Keputusan Bupati Raja Ampat tahun 2026 itu menjadi wadah koordinasi untuk merumuskan langkah pengelolaan pariwisata secara kolaboratif.

Komitmen tersebut diperkuat melalui Lokakarya Pariwisata Berkelanjutan yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas kondisi aktual dan menentukan agenda prioritas.

Menteri Pariwisata RI Widiyanti Putri Wardhana dalam sambutan melalui video menegaskan bahwa pembangunan destinasi tidak dapat hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi.

“Melalui forum ini saya mengajak seluruh pemangku kepentingan menyelaraskan langkah. Mari pastikan setiap investasi kebijakan dan kegiatan tidak hanya memacu ekonomi tapi juga menjaga daya dukung lingkungan serta menghormati budaya Raja Ampat,” paparnya.

Menurut Widiyanti, kolaborasi tersebut diharapkan mampu menempatkan Raja Ampat sebagai model pariwisata berkualitas, inklusif dan berkelanjutan sekaligus memastikan kekayaan alam tetap terjaga untuk generasi berikutnya.

Wakil Bupati Raja Ampat Mansyur Syahdan mengatakan keberlanjutan kawasan tersebut tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah. Masyarakat adat, pelaku usaha, akademisi dan mitra pembangunan dinilai memiliki peran yang sama penting.

“Dengan terbentuknya Forum Mitra Pembangunan ini menegaskan komitmen kita bersama, keberlanjutan Raja Ampat adalah tanggung jawab kolektif. Melalui forum ini pemerintah, masyarakat adat, mitra pembangunan, akademisi, dan para pelaku usaha berkolaborasi memastikan agar setiap kemajuan di sektor pariwisata tidak mengorbankan kelestarian laut dan darat serta tetap menyejahterakan warga masyarakat sekitar,” ujarnya.

Lokakarya yang didukung Global Fund for Coral Reefs (GFCR) bersama berbagai pemangku kepentingan kemudian memetakan 10 isu strategis, yakni tata kelola, daya dukung, ekologi, tata ruang, infrastruktur, masyarakat adat, ekonomi lokal, produk wisata, data dan monitoring, serta sumber daya manusia.

Dari sepuluh persoalan tersebut, forum menetapkan tiga isu sebagai prioritas pada tahun pertama, yakni tata kelola, masyarakat adat, dan ekonomi lokal.

Raja Ampat Program Manager Konservasi Indonesia, Meidiarti Kasmidi, mengatakan komitmen tersebut harus diterjemahkan menjadi program yang dapat dijalankan, bukan berhenti sebagai kesepakatan forum.

“Melalui komitmen bersama yang dihasilkan pada forum ini, seluruh pemangku kepentingan menyepakati daftar program prioritas jangka pendek yang akan segera dilaksanakan secara kolaboratif. Pelantikan forum ini mempertegas bahwa perlindungan ekosistem laut dan peningkatan kesejahteraan warga Raja Ampat adalah tanggung jawab bersama,” kata Meidi.

Bagi masyarakat adat, keberlanjutan pariwisata juga berkaitan langsung dengan perlindungan ruang hidup. Perwakilan masyarakat adat Raja Ampat, Charlie Imbir, menegaskan pentingnya memastikan kegiatan wisata tetap berada dalam koridor adat dan memberikan manfaat nyata kepada masyarakat.

“Melalui kolaborasi pemerintah bersama para mitra dalam forum ini, kami berharap aktivitas wisata di Raja Ampat untuk tahun-tahun mendatang tetap menghormati tatanan adat, menjaga laut tetap bersih, serta memberikan manfaat langsung bagi masyarakat lokal,” tuturnya.

Kesepakatan tersebut menunjukkan bahwa tantangan pariwisata Raja Ampat bukan lagi sekadar bagaimana mendatangkan wisatawan, melainkan bagaimana mengendalikan dampaknya. Pertumbuhan kunjungan tanpa penguatan tata kelola berisiko menggerus sumber daya alam yang justru menjadi daya tarik utama Raja Ampat.

Karena itu, efektivitas forum akan ditentukan oleh sejauh mana sepuluh isu strategis dan tiga prioritas awal tersebut berubah menjadi kebijakan, pengawasan, serta tindakan nyata di lapangan.

Editor : Hanny Wijaya

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut