get app
inews
Aa Text
Read Next : Polresta Sorong Kota dan Insan Pers Berbagi Takjil, Pererat Silaturahmi di Bulan Ramadan

28 Tahun IJTI: Di Tengah Gempuran AI, Kebenaran Jadi Ujian Jurnalis Televisi

Jum'at, 21 Agustus 2026 | 07:55 WIB
header img
Ketua Umum IJTI Herik Kurniawan menegaskan pentingnya menjaga kebenaran, independensi, dan etika jurnalisme di tengah gempuran teknologi dan AI.

 

JAKARTA, iNewssorongraya.id — Perubahan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) semakin cepat mengubah wajah industri media. Namun, bagi Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), perubahan tersebut tidak boleh membuat jurnalis kehilangan pijakan utama: kebenaran dan kepentingan publik.

Pesan itu mengemuka dalam peringatan HUT ke-28 IJTI di Hall Dewan Pers, Jakarta, Kamis (20/8/2026), yang mengusung tema “Beyond Journalism: Membaca Arah Jurnalisme Televisi di Tengah Ketidakpastian.”

Ketua Umum IJTI Herik Kurniawan menegaskan, perkembangan ekosistem media memang menuntut jurnalis beradaptasi. Namun, perubahan teknologi tidak boleh mengubah orientasi dasar profesi jurnalistik.

“Perjalanan jurnalistik itu sangat berat. Tapi satu hal yang tidak boleh berubah adalah kita harus setia kepada kebenaran dan mendukung publik sepenuhnya. Kita harus terus melayani kepentingan informasi untuk publik. Kita berdiri di atas data, kebenaran, dan publik,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menjadi penting ketika kecepatan distribusi informasi kini sering kali lebih dominan dibandingkan proses verifikasi. Platform digital, media sosial, algoritma, hingga AI telah mempercepat produksi dan penyebaran informasi, sekaligus meningkatkan risiko munculnya informasi keliru.

Dalam kondisi itu, jurnalis televisi dituntut tidak hanya cepat menyampaikan informasi, tetapi juga mampu memastikan setiap fakta yang disiarkan memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Yang harus terus berubah adalah bagaimana kita menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi yang terus berkembang, sehingga kita tetap bisa menjalankan fungsi jurnalistik dengan baik,” ujarnya.

Teknologi Boleh Berubah, Prinsip Jurnalistik Tidak

IJTI menilai kemampuan beradaptasi menjadi salah satu kunci keberlangsungan profesi jurnalis televisi. Namun, adaptasi tersebut harus berjalan seiring dengan penguatan kompetensi dan kepatuhan terhadap kode etik jurnalistik.

Herik menilai kualitas karya jurnalistik sangat berkaitan dengan kapasitas wartawan dalam menghadapi perubahan teknologi dan pola konsumsi informasi masyarakat.

“Kompetensi jurnalis harus terus ditingkatkan karena kompetensi itu juga akan berbanding lurus dengan peningkatan karya jurnalistik yang dibuat oleh para jurnalis,” tegasnya.

Pesan itu sekaligus menempatkan kompetensi sebagai benteng menghadapi era AI. Teknologi dapat membantu proses produksi informasi, tetapi tanggung jawab jurnalistik tetap berada pada manusia yang melakukan verifikasi, menentukan konteks, dan memastikan informasi tidak menyesatkan publik.

Karena itu, Beyond Journalism tidak dimaknai sebagai meninggalkan prinsip jurnalistik. Sebaliknya, tema tersebut menjadi dorongan agar jurnalisme televisi mampu bergerak mengikuti perubahan tanpa kehilangan identitasnya.

Independensi Pers Harus Dirawat, Bukan Sekadar Dipertahankan

Selain persoalan teknologi, IJTI menyoroti tantangan terhadap independensi dan kebebasan pers. Herik menegaskan, kedua prinsip tersebut membutuhkan upaya bersama agar tetap menjadi fondasi kehidupan demokrasi.

“Kita harus menjaga dan merawat independensi serta kebebasan pers bersama-sama. Caranya dengan terus mengerjakan karya jurnalistik yang positif dan berkualitas, dengan tetap mengedepankan etik dan kebijaksanaan dalam memberitakan apa pun,” katanya.

Dalam konteks tersebut, kualitas berita menjadi salah satu ukuran penting dalam mempertahankan kepercayaan publik. Jurnalisme yang hanya mengejar kecepatan, sensasi, atau kepentingan tertentu berisiko memperlemah posisi pers sebagai sumber informasi yang dipercaya.

Sebaliknya, pemberitaan yang berbasis data, verifikasi, etika, dan kepentingan publik menjadi modal utama untuk menjaga legitimasi pers di tengah derasnya arus informasi digital.

Pers dan Demokrasi Tidak Bisa Dipisahkan

IJTI juga mengingatkan bahwa fungsi pers tidak berhenti pada produksi dan distribusi berita. Pers memiliki posisi strategis dalam menjaga mekanisme kontrol sosial serta mendukung kehidupan demokrasi.

“Jurnalis juga tidak bisa berdiri sendiri. Dibutuhkan kerja sama dengan semua pihak yang terkait. Kita harus sadar bahwa demokrasi dibangun juga oleh pers, di mana pers merupakan salah satu pilar demokrasi,” ujarnya.

Peringatan HUT ke-28 IJTI akhirnya bukan sekadar agenda organisasi. Momentum tersebut menjadi pengingat bahwa tantangan terbesar jurnalisme televisi bukan hanya bagaimana menghadapi teknologi baru, melainkan bagaimana mempertahankan kepercayaan publik ketika batas antara informasi, opini, manipulasi, dan konten buatan AI semakin kabur.

Teknologi akan terus berubah. Platform akan terus bergeser. Cara publik mengonsumsi informasi juga akan terus berkembang.

Namun, satu hal yang tidak boleh ikut berubah adalah komitmen jurnalis terhadap kebenaran, independensi, etika, dan kepentingan publik.

Di situlah masa depan jurnalisme televisi dipertaruhkan: bukan pada seberapa cepat berita diproduksi, tetapi seberapa kuat pers mampu memastikan bahwa informasi yang sampai kepada publik tetap benar, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Editor : Hanny Wijaya

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut