get app
inews
Aa Text
Read Next : Patroli Humanis Damai Cartenz di Lanny Jaya, Merawat Aman dan Kepercayaan Warga

PGI Desak Kekerasan di Papua Dihentikan, Minta Investigasi Independen

Minggu, 05 Juli 2026 | 06:21 WIB
header img
Seorang ibu hamil yang meninggal dunia akibat terkena peluru nyasar. PGI menyerukan penghentian kekerasan di Papua setelah konflik Intan Jaya dan Yahukimo menewaskan pendeta, ibu hamil, pilot asing, warga sipil, dan prajurit TNI.

JAKARTA, iNewsSorongraya.id — Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia atau PGI mendesak semua pihak menghentikan kekerasan bersenjata di Tanah Papua menyusul rentetan peristiwa berdarah di Kabupaten Intan Jaya dan Kabupaten Yahukimo, Papua.

Desakan itu disampaikan PGI melalui siaran pers bertajuk “Hentikan Kekerasan di Tanah Papua, Hormati Martabat dan Kesucian Hidup Manusia” yang dikeluarkan di Jakarta, Jumat (3/7/2026) dan ditandatangani Kepala Biro Papua PGI, Pdt. Ronald Rischard Tapilatu yang diterima Redaksi iNewssorongraya.id, Sabtu (4/7/2026).

PGI menyampaikan dukacita mendalam atas jatuhnya sejumlah korban jiwa dalam eskalasi konflik beberapa hari terakhir. Korban tersebut antara lain Pdt. Elianus Agimbau, pelayan Tuhan dan gembala jemaat GKII; Melkiana Duwitau, ibu hamil delapan bulan bersama bayi yang dikandungnya; serta Okto Tigau, warga sipil yang ditemukan meninggal dunia dengan dugaan mengalami penyiksaan dan luka berat.

PGI juga menyoroti tewasnya pilot berkewarganegaraan Amerika Serikat, Captain Nicholas F. Goselin, akibat penyerangan dan pembakaran pesawat AMA PK-RCY di Bandara Ipdeheik, Kampung Balinggama, Distrik Sobaham, Kabupaten Yahukimo, pada 2 Juli 2026.

Selain warga sipil, konflik tersebut juga menyebabkan gugurnya anggota TNI, Praka Bayu Oktara, serta memaksa ribuan warga mengungsi akibat situasi keamanan yang terus memburuk.

“Setiap nyawa yang hilang adalah sebuah tragedi kemanusiaan yang menyedihkan. Ketika seorang Pendeta, ibu hamil bersama bayinya, warga sipil, pilot pesawat, maupun aparat negara menjadi korban, yang terluka bukan hanya keluarga mereka, melainkan juga harkat martabat kemanusiaan kita bersama,” demikian pernyataan PGI.

PGI menegaskan, alasan politik maupun keamanan tidak dapat digunakan untuk membenarkan hilangnya nyawa manusia yang tidak bersalah.

“Apapun kepentingan atau alasannya baik politik maupun keamaman, menghilangkan nyawa manusia yang tak bersalah tidak dapat dibernarkan,” tulis PGI dalam siaran pers tersebut.

Dalam sikap resminya, PGI mengecam keras pembunuhan, penyiksaan, mutilasi, dan serangan bersenjata yang menyebabkan korban jiwa. PGI juga mengecam penyerangan terhadap pesawat sipil dan warga tak bersenjata.

PGI menilai kekerasan yang berulang di Papua menunjukkan semakin pudarnya penghormatan terhadap martabat manusia. Karena itu, PGI meminta semua pihak yang bertikai menahan diri dan menghentikan seluruh bentuk kekerasan.

PGI juga mengkritik pendekatan militeristik yang selama ini dinilai tidak mampu menghadirkan solusi damai dan adil. Menurut PGI, pendekatan tersebut justru memperpanjang penderitaan warga sipil di wilayah konflik.

Atas situasi itu, PGI mendesak pemerintah membuka jalan dialog damai secara nyata dan bermartabat. Dialog tersebut dinilai perlu melibatkan gereja, tokoh agama, tokoh adat, masyarakat sipil, serta pihak-pihak terkait di Tanah Papua.

PGI juga meminta pemerintah mengusut tuntas seluruh peristiwa kekerasan melalui penyelidikan independen dan tidak memihak. PGI mendesak pelaku yang terbukti bersalah dijatuhi sanksi hukum berat.

Secara khusus, PGI meminta Panglima TNI dan Kapolri menegakkan hukum terhadap aparat TNI atau Polri yang patut diduga melanggar hukum maupun hak asasi manusia. Proses hukum itu diminta dilakukan secara profesional, transparan, dan akuntabel.

“PGI menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada seluruh keluarga korban, baik keluarga Pdt. Elianus Agimbau, Ibu Melkiana Duwitau dan bayi yang dikandungnya, Okto Tigau, Pilot Nicholas F. Goselin, Praka Bayu Oktara, maupun seluruh korban lainnya,” kata Kepala Biro Papua PGI, Pdt. Ronald Rischard Tapilatu.

PGI menutup pernyataannya dengan seruan perdamaian bagi Tanah Papua dan mengutip ayat Alkitab, “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” sebagaimana tertulis dalam Matius 5:9.

Editor : Hanny Wijaya

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut