Ledakan Maut di Biak Sisakan Ancaman, Polisi Temukan 42 Serpihan Casing Proyektil
BIAK, iNewsSorongraya.id — Penanganan pascaledakan di Kompleks Perikanan Biak memasuki fase kritis setelah Tim Jibom Gegana Polda Papua menemukan 42 serpihan casing proyektil di area terdampak ledakan. Temuan itu menjadi bahan pendalaman penyidik untuk mengungkap penyebab ledakan sekaligus mempertegas risiko material berbahaya di sekitar lokasi.
Ledakan yang terjadi pada 31 Mei 2026 itu masih menyisakan persoalan serius. Selain proses pencarian korban yang belum tuntas, tim gabungan juga harus memastikan seluruh area steril sebelum olah tempat kejadian perkara dilakukan secara menyeluruh.
Kapolres Biak Numfor AKBP Ari Trestiawan, mengatakan Tim Jibom Gegana Polda Papua telah mensterilisasi sekitar 75 persen area terdampak. Sisa 25 persen area masih akan diperiksa pada hari berikutnya.
"Dari hasil sterilisasi hari ini, tim Jibom menemukan 42 serpihan casing proyektil yang selanjutnya akan menjadi bahan pendalaman lebih lanjut," jelas Kapolres.
Menurut Kapolres, proses sterilisasi menjadi tahapan penting sebelum tim lain masuk ke area Ring 1. Evakuasi barang maupun potongan tubuh di area tersebut hanya dilakukan setelah Tim Jibom memberikan rekomendasi keamanan.
Sementara itu, Tim Basarnas dan tim gabungan tetap melakukan pencarian pada Ring 2 dalam radius sekitar empat kilometer dari lokasi ledakan. Pembagian wilayah kerja itu dilakukan untuk menjaga keselamatan personel dan mencegah risiko tambahan di area yang belum sepenuhnya aman.
Dalam operasi hari kelima, tim gabungan kembali menemukan 32 potongan tubuh. Sebanyak 30 potongan tubuh ditemukan oleh Tim Jibom Gegana Polda Papua saat sterilisasi area ledakan. Dua potongan tubuh lainnya ditemukan oleh Tim SAR Gabungan di area pencarian.
Seluruh temuan tersebut telah dievakuasi dan diserahkan kepada tim identifikasi. Posko juga menerima barang yang diduga milik korban, yakni tiga buah parang, satu buah pisau, dan dua buah jam tangan.
Kapolres menyebut jumlah korban meninggal dunia hingga Kamis, 4 Juni 2026, tercatat enam orang. Tiga korban lain masih dalam proses pencarian dan identifikasi.
"Untuk korban yang sebelumnya masih menjalani perawatan inap, saat ini telah bergabung di posko pengungsian untuk menjalani rawat jalan. Korban mengalami patah tulang dan masih dalam pemantauan Dinas Kesehatan serta RSUD Biak," ujar Kapolres.
Penyelidikan penyebab ledakan juga diperkuat oleh Tim Puslabfor Polda Papua. Tim forensik mulai melakukan olah tempat kejadian perkara pada radius sekitar 25 meter dari titik sumber ledakan.
Dari pemeriksaan awal, Puslabfor mengamankan 20 serpihan logam, dua gergaji besi, dan satu mata gerinda. Barang bukti tersebut akan diteliti di laboratorium forensik untuk mendukung proses penyelidikan.
Secara teknis, Puslabfor menyatakan tidak menemukan hambatan berarti. Namun, olah TKP belum dapat dilakukan secara menyeluruh karena sebagian area masih menunggu sterilisasi dari Tim Jibom.
Komandan Tim Jibom Gegana Polda Papua menyampaikan cuaca menjadi kendala utama dalam sterilisasi hari kelima. Hujan yang mengguyur lokasi membuat tim hanya dapat bekerja maksimal sekitar dua jam.
Di tengah proses investigasi, polisi juga memperluas peringatan kepada masyarakat. Kapolres meminta warga melapor apabila mengetahui, menemukan, atau masih menyimpan benda yang diduga merupakan peninggalan Perang Dunia II.
"Kami masih membuka posko baik di lokasi kejadian maupun di Polres Biak Numfor. Apabila masyarakat mengetahui, menemukan, atau menyimpan benda-benda yang diduga peninggalan Perang Dunia II, segera laporkan kepada kami melalui posko, Polres, maupun Polsek terdekat agar dapat ditangani secara aman oleh petugas yang berkompeten," tegas Kapolres.
Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Cahyo Sukarnito, menegaskan warga tidak boleh mendatangi lokasi ledakan tanpa kepentingan. Ia menyebut area tersebut masih berbahaya karena proses sterilisasi dan penyelidikan belum selesai.
"Kami mengimbau masyarakat untuk tidak memasuki area yang masih dalam proses sterilisasi dan penyelidikan. Keselamatan masyarakat menjadi prioritas karena masih terdapat potensi ditemukannya material berbahaya di sekitar lokasi kejadian," ujar Kabid Humas.
Cahyo juga meminta masyarakat tidak mengambil tindakan sendiri ketika menemukan benda yang diduga sisa amunisi, bom, granat, atau material peninggalan perang. Menurut dia, benda semacam itu harus ditangani oleh personel dengan kemampuan dan peralatan khusus.
"Segera laporkan kepada aparat kepolisian terdekat agar dapat ditangani oleh personel yang memiliki kemampuan dan peralatan khusus. Langkah cepat masyarakat dalam melaporkan temuan tersebut sangat penting untuk mencegah terjadinya korban jiwa maupun insiden serupa di kemudian hari," tegas Kombes Pol. Cahyo.
Tim DVI juga terus memperkuat proses identifikasi korban. Tim telah membuka Posko Antemortem di sekitar lokasi kejadian, mengumpulkan tiga data antemortem dari keluarga korban, serta mengambil sampel DNA keluarga korban yang belum teridentifikasi.
"Besok Tim DVI akan melaksanakan pengambilan sampel DNA terhadap potongan tubuh yang saat ini berada di kamar jenazah RSUD Biak untuk kepentingan identifikasi," tambahnya.
Hingga kini, proses pencarian korban, identifikasi, sterilisasi, dan penyelidikan masih berlangsung. Polisi menegaskan keselamatan warga menjadi prioritas utama sampai seluruh area dinyatakan aman dan penyebab ledakan dapat dipastikan secara ilmiah.
Editor : Hanny Wijaya