get app
inews
Aa Text
Read Next : 2 Siswa asal SMA di Raja Ampat dan Sorong Lolos Seleksi Calon Paskibraka

Jejak Perang Dunia II di Tambrauw Dibidik Jadi Wisata Sejarah Jepang

Jum'at, 05 Juni 2026 | 07:45 WIB
header img
Kepala Dinas Pariwisata Pemprov PBD, Yusdi Lamatenggo. (FOTO : iNewssorongraya.id - CHAN)

SORONG, iNewsSorongraya.id — Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya menilai proyek pengumpulan dan identifikasi kerangka prajurit Jepang yang gugur pada Perang Dunia II dapat menjadi pintu masuk pengembangan wisata sejarah, terutama di Kabupaten Tambrauw.

Kepala Dinas Pariwisata Papua Barat Daya, Yusdi Lamatenggo, mengatakan Tambrauw memiliki jejak sejarah kuat karena menjadi salah satu wilayah yang berkaitan dengan pertempuran Jepang dan Sekutu pada masa Perang Dunia II.

“Kalau pemerintah provinsi kan intinya mendukung saja, nah ini kan nanti ke depan kita berharap selesainya proses ini, apakah semua kerangkanya dipulangkan ke Jepang atau bagaimana formatnya, kita berharap ke depan itu tetap akan, dari sisi pariwisata ya, kita berharap Tambrauw bisa jadi destinasi wisata orang Jepang, minimal wisata keluarga yang punya hubungan emosional dengan Papua Barat Daya,” kata Yusdi.

Menurut Yusdi, keluarga prajurit Jepang berpotensi datang ke Papua Barat Daya setelah proses identifikasi selesai. Mereka dapat menelusuri lokasi leluhur mereka pernah bertugas, berperang, atau gugur di wilayah Papua pada masa Perang Dunia II.

“Mereka datang kesini menyaksikan sendiri bagaimana dulu kakek mereka, buyut mereka datang berperang kesini, nah itu harapannya kita ke depan. Jadi dari sisi pariwisata, kita menanggapinya seperti ini,” ujarnya.

Yusdi menjelaskan, Papua Barat Daya tidak boleh hanya dipandang sebagai daerah tujuan wisata alam dan budaya. Menurutnya, wilayah ini juga memiliki kekuatan sejarah yang dapat dikembangkan sebagai destinasi wisata memori perang.

“Betul, jadi kita berharap ini jadi tempat memori kenangan, kenangan perang dunia. Jadi kan kalau kita bicara eks wilayah perang dunia kedua waktu itu, kan ada Jayapura, ada Biak, ada Morotai, kemudian ada juga Papua Barat Daya,” katanya.

Ia menyebut pantai utara Papua Barat Daya pernah menjadi salah satu kawasan aktif pertempuran antara pasukan Jepang dan Tentara Sekutu. Karena itu, narasi sejarah tersebut perlu dirawat dan dikemas secara serius.

“Tidak boleh kita lupakan dulu perangnya dulu pasukan dari Tentara Sekutu dan Jepang itu di pantai utara Papua Bara Daya ini mereka aktif berperang zaman dulu,” ujar Yusdi.

Yusdi mengatakan wilayah Werur di Kabupaten Tambrauw menyimpan banyak peninggalan perang. Peninggalan tersebut, kata dia, dapat menjadi bagian dari konsep wisata sejarah jika dikelola dengan baik dan tetap memperhatikan aspek pelestarian.

“Kita juga tahu semua di Werur ada banyak peninggalan-peninggalan senjata, kendaraan-kendaraan perang itu kan juga luar biasa,” katanya.

Ia menegaskan pengembangan wisata sejarah tidak hanya berkaitan dengan peninggalan Jepang. Papua Barat Daya juga memiliki jejak peninggalan Sekutu, termasuk Amerika Serikat, meski sejauh ini belum ada koordinasi khusus dengan pemerintah Amerika.

“Ini baru bicara Jepang, kita baru bicara misalnya tentang tentara Amerika. Wah peninggalan juga banyak, Amerika punya juga banyak. Jadi ini semua ke depan akan kita bungkus menjadi destinasi wisata sejarah,” ujar Yusdi.

Yusdi menyebut Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya terbuka untuk mendorong wisata sejarah sebagai salah satu daya tarik baru. Konsep ini diharapkan mampu memperluas pilihan wisatawan yang datang ke Papua Barat Daya.

“Jadi ada banyak pilihan kesini, salah satunya tadi kita mengangkat wisata sejarah. Karena pemerintah provinsi Papua Barat Daya, dalam hal ini Pak Gubernur, sangat welcome, terbuka untuk kita dorong supaya orang kesini tidak hanya melihat alam, tidak hanya melihat budaya, tapi juga ada wisata sejarah,” katanya.

Menurut Yusdi, wisata sejarah juga dapat memberi dampak ekonomi bagi masyarakat lokal. Kunjungan wisatawan, terutama dari Jepang, dapat membuka ruang baru bagi pelaku usaha, pemandu wisata, komunitas sejarah, dan masyarakat di sekitar lokasi peninggalan perang.

“Wisata sejarah yang bisa kita dorong menjadi salah satu destinasi wisata dan nanti bisa menjadi penggerak ekonomi di rakyat,” ujarnya.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya menerima rencana kegiatan Tim Gabungan Indonesia–Jepang terkait proyek pengumpulan dan identifikasi kerangka prajurit Jepang yang gugur pada Perang Dunia II. Kegiatan tersebut merupakan kerja sama resmi kedua negara yang bersifat kemanusiaan.

Gubernur Papua Barat Daya Elisa Kambu menyatakan dukungan penuh terhadap proyek itu karena dinilai memiliki nilai kemanusiaan tinggi.

“Kami mendukung penuh kegiatan ini dan berharap dapat berjalan lancar serta memberikan hasil terbaik bagi keluarga prajurit,” ujar Elisa Kambu.

Proyek ini tidak hanya menjadi upaya mengungkap jejak korban perang, tetapi juga membuka peluang Papua Barat Daya membangun destinasi wisata sejarah yang berakar pada memori, kemanusiaan, dan hubungan emosional lintas negara. 

 

 

 

Editor : Hanny Wijaya

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut