JAYAPURA, iNewssorongraya.id – Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III mengedepankan pendidikan dan penguatan karakter sebagai strategi melindungi generasi muda Papua dari paparan radikalisme, terorisme, separatisme, serta ekstremisme yang dikaitkan dengan kelompok Organisasi Papua Merdeka atau OPM.
Pangkogabwilhan III Letjen TNI Lucky Avianto mengatakan, personel satuan tugas TNI membangun komunikasi dengan masyarakat, terutama orang tua dan mama-mama Papua, untuk menumbuhkan kesadaran mengenai pentingnya pendidikan bagi masa depan anak.
Menurut Lucky, pendekatan tersebut dilakukan karena sekolah dinilai menjadi ruang penting untuk membentuk pola pikir, karakter, moral, dan integritas generasi muda Papua. Pendidikan juga dipandang sebagai jalan untuk memperbaiki taraf hidup tanpa menggunakan kekerasan.
“Pendidikan bagi anak-anak sebagai jalan satu-satunya untuk merubah nasib, bukan dengan senjata dan kekerasan seperti yang diperlihatkan OPM selama ini,” kata Lucky dalam keterangannya.
Ia mengklaim semakin banyak orang tua di Papua yang mulai menyekolahkan anak-anak mereka. Perubahan itu, menurut dia, turut didukung berbagai program pendidikan pemerintah, mulai dari Sekolah Rakyat hingga pemberian beasiswa bagi anak-anak di wilayah timur Indonesia.
Lucky menilai pendidikan karakter perlu ditempatkan sebagai fondasi utama dalam membentuk generasi muda Papua yang tangguh, bermoral, dan berintegritas. Bekal tersebut diharapkan dapat meningkatkan daya tahan anak terhadap ajaran yang mengedepankan kekerasan maupun perlawanan bersenjata.
“Di sekolah-lah karakter anak-anak Papua dapat terbentuk dengan baik, sehingga mereka dapat terbebas dari paham-paham radikalisme, terorisme, separatisme dan ekstremisme, yang sebelumnya mereka lihat dan diajarkan oleh OPM,” ujarnya.
Sebagai salah satu indikator kemajuan pendidikan, Lucky menyebut sebanyak 25 siswa asal Papua tercatat berhasil mengikuti pendidikan sebagai taruna Akademi Militer. Namun, keterangan tersebut belum merinci tahun seleksi, daerah asal, maupun tahapan pendidikan yang sedang ditempuh para taruna tersebut.
Menurut Lucky, keberhasilan putra-putri Papua menembus Akademi Militer menunjukkan besarnya peluang generasi muda di Bumi Cenderawasih untuk mengambil peran strategis dalam institusi negara.
Para taruna itu kelak diproyeksikan menjadi perwira TNI yang bertugas mempertahankan kedaulatan negara, menghadapi ancaman militer, serta mengantisipasi gangguan nonmiliter yang dapat memengaruhi stabilitas nasional.
Di samping pendekatan pendidikan, Kogabwilhan III juga memperkuat pengamanan di sejumlah daerah yang dikategorikan rawan. Langkah tersebut diklaim bertujuan mempersempit ruang gerak kelompok bersenjata agar tidak memengaruhi maupun melibatkan anak-anak dalam konflik.
Penguatan keamanan itu membutuhkan pelaksanaan yang terukur agar tidak menghambat kegiatan belajar, pelayanan publik, serta mobilitas masyarakat sipil. Keberhasilan strategi tersebut juga bergantung pada kesinambungan fasilitas pendidikan, ketersediaan tenaga pengajar, jaminan keamanan sekolah, dan keterlibatan pemerintah daerah.
Kogabwilhan III menyatakan pendekatan pendidikan dan pengamanan tersebut merupakan bagian dari dukungan TNI terhadap delapan misi Asta Cita pemerintahan Presiden Prabowo Subianto di wilayah timur Indonesia.
Bagi Papua, perlindungan generasi muda tidak cukup hanya melalui penebalan personel keamanan. Kehadiran sekolah yang aman, guru yang memadai, beasiswa yang tepat sasaran, serta ruang tumbuh yang terbebas dari kekerasan menjadi ukuran utama keberhasilan negara menjaga masa depan anak-anak Papua.
Editor : Chanry Suripatty
Artikel Terkait
