SORONG KOTA, iNewssorongraya.id — Kepolisian Daerah Papua Barat Daya mengungkap fakta krusial dalam kasus dugaan penghadangan dan penganiayaan di Distrik Bamusbama, Kabupaten Tambrauw, yang menewaskan dua warga sipil. Polisi memastikan korban tidak tewas akibat tembakan, melainkan luka akibat senjata tajam.
Pernyataan itu disampaikan dalam keterangan pers resmi yang digelar di Aula Mapolda Papua Barat Daya, Rabu (18/3/2026), sekaligus menepis berbagai spekulasi yang beredar di media sosial.
Peristiwa berdarah tersebut terjadi pada Senin (16/3/2026) sekitar pukul 11.30 WIT, di jalan poros antara Kampung Bangfot dan Kampung Jogbu, saat empat warga sipil dalam perjalanan dari Tambrauw menuju Kota Sorong.
Dua korban yang meninggal dunia diketahui bernama Yermia Lobo (37), tenaga medis di RS Pratama Fef, dan Yohanes Edwintus Bido (24), pemuda asal Ende. Sementara dua korban lainnya berhasil selamat setelah melarikan diri dan melaporkan kejadian ke Pos Satgas TNI.
Polisi Tegaskan: Tidak Ada Luka Tembak
Pasukan Gabungan Polri dan TNI, saat melakukan proses evakuasi dua jenazah korban penyerangan OTK di Distrik Bamusbama, Senin (16/3/2026) (Foto: Istimewa)
Kabid Humas Polda Papua Barat Daya, Kompol Jenny Setya Agustin Hengkelare yang didampingi Dirintel. Kombes Pol Angling Kuncoro, serta Kabid Propam. AKBP Matias Krey, dalam keterangannya di Aula Mapolda Papua Barat Daya, Rabu [18/3/2026], menjelaskan bahwa para korban dihadang oleh sekelompok orang tidak dikenal saat melintas di lokasi kejadian., dalam keterangannya menegaskan bahwa informasi mengenai korban yang tertembak tidak benar.
“Kami berharap rekan-rekan wartawan dapat membantu meluruskan informasi. Tidak ada luka tembak. Berdasarkan hasil visum, korban meninggal dunia akibat benda tajam, seperti pisau atau panah,” tegasnya.
Ia juga memastikan seluruh korban merupakan warga sipil dan bukan anggota intelijen, sebagaimana isu yang beredar.
“Tidak benar jika disebut sebagai anggota intel. Mereka adalah pegawai pemerintah daerah di Kabupaten Tambrauw,” ujarnya.
Kronologi: Dihadang OTK Saat Melintas
Kabid Humas Polda Papua Barat Daya, Kompol Jenny Setya Agustin Hengkelare, saat memberikan keterangan pers kepada wartawan. (Foto: Istimewa).
Dalam penjelasannya, polisi menyebut keempat korban dihadang oleh sekelompok orang tak dikenal saat melintas di lokasi kejadian. Dugaan kuat, terjadi pengeroyokan yang berujung fatal.
Dua korban selamat langsung menuju Pos TNI Batalyon 763 untuk meminta pertolongan, sementara dua lainnya ditemukan meninggal di tempat kejadian perkara.
Polisi kemudian melakukan olah TKP, mengevakuasi korban, serta membawa mereka ke fasilitas kesehatan. Namun karena keterbatasan tenaga medis di RS Pratama Fef, seluruh korban akhirnya dirujuk ke RS Sele Be Solu, Kota Sorong, dengan pengawalan aparat gabungan TNI-Polri.
Pelaku Masih Misterius, Diduga Terkait Serangan Sebelumnya
Pasukan Gabungan Polri dan TNI, saat melakukan proses evakuasi dua jenazah korban penyerangan OTK di Distrik Bamusbama, Senin (16/3/2026). (Foto : Istimewa).
Hingga kini, aparat belum menetapkan tersangka. Proses penyelidikan masih berlangsung intensif oleh Satreskrim Polres Tambrauw dengan dukungan Direktorat Reskrimum Polda Papua Barat Daya.
“Saat ini masih dalam tahap pendalaman dan lidik sidik. Kami belum dapat memastikan identitas pelaku,” kata Jenny.
Polisi juga menduga adanya keterkaitan dengan peristiwa serupa pada 8 Maret 2026 yang menewaskan seorang pegawai honorer di wilayah yang sama.
“Diduga ada kaitannya, tetapi kami masih mendalami dan tidak bisa menyimpulkan secara prematur,” ujarnya.
Video Klaim Pelaku Masih Didalami
Jenazah tenaga medis, Yermia Lobo korban kebiadaban KKB OPM saat diturunkan dari mobil jenazah disambut isak tangis keluarga. (Foto: Istimewa)
Terkait beredarnya video yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut, kepolisian menyatakan masih melakukan analisis mendalam.
“Kami belum bisa membenarkan keaslian video tersebut. Saat ini masih dalam proses pendalaman,” jelasnya.
60 Personel Brimob Dikerahkan, Jalur Dijaga Ketat
Sebagai langkah pengamanan, Polda Papua Barat Daya mengerahkan sedikitnya 60 personel Brimob untuk memperkuat situasi di Tambrauw, didukung Satgas TNI dan Polres setempat.
Petugas juga ditempatkan di sejumlah titik strategis guna menjamin keamanan mobilitas warga.
Sistem pengawalan diberlakukan dengan metode konvoi untuk kendaraan roda dua maupun roda empat yang melintas di jalur rawan.
“Kendaraan dikumpulkan terlebih dahulu, kemudian dikawal bersama oleh petugas demi keamanan,” ujar Jenny.
Situasi Kondusif, Masyarakat Diminta Tidak Panik
Meski sempat menimbulkan kekhawatiran, polisi memastikan kondisi keamanan terkini relatif kondusif.
Masyarakat diimbau tetap beraktivitas seperti biasa dan tidak terpengaruh informasi yang belum terverifikasi.
“Silakan masyarakat tetap beraktivitas. Kami menjamin keamanan dengan penguatan personel di lapangan,” katanya.
Motif Belum Terungkap
Hingga saat ini, motif di balik serangan tersebut masih menjadi misteri.
Polisi menegaskan seluruh kemungkinan masih terbuka dan terus didalami melalui pemeriksaan saksi serta pengumpulan bukti di lapangan.
Kasus Tambrauw kembali menegaskan bahwa ancaman terhadap warga sipil masih nyata di wilayah tersebut. Di tengah upaya negara menjaga stabilitas keamanan, publik kini menanti langkah tegas aparat dalam mengungkap pelaku dan memastikan kejadian serupa tidak terulang.
Editor : Chanry Suripatty
Artikel Terkait
