Temuan Bakteri pada Buah MBG di Kota Sorong , SPPG Terancam Ditutup
SORONG KOTA, iNewssorongraya.id - Temuan bakteri Bacillus cereus yang melampaui ambang batas pada buah naga potong program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Sorong, Papua Barat Daya, memicu ancaman penutupan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Malaimsimsa Klabulu. Satgas MBG menuntut pengelola memperketat standar keamanan pangan setelah insiden yang menyebabkan puluhan siswa dan guru mengalami gangguan kesehatan.
Dinas Kesehatan Kota Sorong mengungkapkan temuan tersebut berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan MBG yang dikonsumsi siswa SMP Muhammadiyah Al Amin pada September 2026.
Kepala Seksi Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja dan Olahraga Dinas Kesehatan Kota Sorong, Meri Tandigau, mengatakan hasil pengujian menunjukkan hampir seluruh sampel makanan memenuhi persyaratan, kecuali buah naga potong.
"Hasil pemeriksaan, untuk semua sampel makanan memenuhi syarat, kecuali sampel buah potong, yaitu buah naga potong," kata Meri saat konferensi pers di Ruang Anggrek, Kantor Wali Kota Sorong, Senin (28/9/2026).
Laboratorium Kesehatan Masyarakat Makassar menemukan Bacillus cereus sebesar 2,5 x 10² CFU per gram pada sampel buah naga tersebut. Angka itu melampaui batas yang dipersyaratkan, yakni di bawah 10² koloni per gram.
Temuan ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian standar mikrobiologi pada salah satu komponen menu MBG yang diperiksa. Namun, hasil tersebut belum membuktikan bahwa Bacillus cereus menjadi penyebab seluruh kasus gangguan kesehatan yang dialami siswa dan guru.
Dinas Kesehatan mengambil sampel pangan dari bank sampel SPPG Malaimsimsa Klabulu pada 17 September 2026. Laboratorium Kesehatan Masyarakat Makassar kemudian melakukan pengujian pada 18 September 2026.
Pemeriksaan mencakup nasi putih, ayam woku, tempe goreng tepung, tumis sawi dan toge, buah naga potong, serta air yang digunakan dalam pengolahan makanan.
Selain Bacillus cereus, laboratorium memeriksa sejumlah parameter mikrobiologi, meliputi Escherichia coli, Salmonella, dan Staphylococcus aureus. Sementara itu, sampel air diuji terhadap Escherichia coli dan Total Coliform.
Meski hasil laboratorium mengidentifikasi bakteri pada buah naga, penyebab pasti gangguan kesehatan para korban belum dapat dipastikan melalui hasil tersebut.
Pasalnya, sisa makanan yang dikonsumsi korban maupun spesimen muntahan tidak tersedia untuk diperiksa. Kondisi ini membatasi pembuktian hubungan langsung antara sampel yang diuji dan keluhan kesehatan para korban.
Insiden tersebut dilaporkan terjadi setelah siswa dan guru SMP Muhammadiyah Al Amin mengonsumsi makanan MBG yang disiapkan SPPG Malaimsimsa Klabulu pada 16 September 2026.
Dalam penanganan awal, delapan guru dilaporkan mengalami sakit perut dan diare. Sebanyak 14 siswa mendapat perawatan di rumah sakit dengan keluhan mual, muntah, sakit perut, pusing, dan diare.
Selain itu, 30 siswa menjalani rawat jalan setelah mendapatkan penanganan dari Dinas Kesehatan Kota Sorong.
Ketua Satgas MBG Kota Sorong, Ruddy Laku, menyatakan hasil pemeriksaan laboratorium menjadi bahan evaluasi terhadap pengelolaan SPPG Malaimsimsa Klabulu.
Satgas menyoroti pentingnya pengawasan menyeluruh, mulai dari proses pengolahan bahan pangan, penyimpanan, hingga distribusi makanan kepada penerima manfaat.
Ruddy mengatakan pengelola telah menerima sejumlah rekomendasi perbaikan, termasuk pengendalian waktu sejak makanan selesai dimasak hingga didistribusikan dan dikonsumsi siswa.
Pengawasan suhu penyimpanan bahan baku dan makanan matang juga harus diperketat, termasuk memastikan batas waktu penyimpanan sesuai standar keamanan pangan.
Satgas turut merekomendasikan pemasangan kamera pemantau atau CCTV di seluruh ruangan dapur SPPG untuk membantu mengawasi aktivitas pengolahan makanan dan penerapan prosedur operasional standar (SOP).
"SPPG sudah harus mengambil langkah penting. Kalau tidak, bukan hanya disuspensi, bahkan bisa ditutup," tegas Ruddy.
Satgas MBG bersama Balai POM di Sorong dan instansi terkait akan melanjutkan pengawasan guna memastikan pengelola menjalankan rekomendasi tersebut.
Ancaman penutupan menjadi konsekuensi yang disampaikan Satgas apabila pengelola tidak melakukan perbaikan. Namun, keputusan mengenai tindak lanjut operasional SPPG tetap bergantung pada hasil evaluasi dan pengawasan instansi berwenang.
Kepala Balai POM di Sorong, Rizki Okprastowo, menegaskan kasus tersebut menjadi pengingat bagi seluruh pihak yang terlibat dalam penyediaan makanan MBG agar tidak mengabaikan standar keamanan pangan.
Menurutnya, besarnya jumlah makanan yang diproduksi setiap hari dalam program MBG menuntut penerapan SOP secara konsisten, bukan sekadar pemenuhan target distribusi.
"Ini bukan hanya soal menyelesaikan tugas, tetapi bagaimana makanan yang disiapkan benar-benar aman karena yang menerima adalah anak-anak kita dan masyarakat kita," ujarnya.
Rizki menekankan bahwa pengawasan harus mencakup seluruh rantai penyediaan makanan, mulai dari persiapan bahan baku, pengolahan, penyimpanan, hingga makanan diterima dan dikonsumsi siswa.
Balai POM di Sorong bersama Satgas MBG dan instansi terkait akan terus melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan standar keamanan pangan di SPPG.
Temuan Bacillus cereus pada buah naga potong kini menjadi peringatan bagi pengelola MBG di Sorong bahwa keamanan pangan tidak cukup diukur dari makanan yang selesai diproduksi dan dibagikan. Kepatuhan terhadap standar mikrobiologi, pengendalian suhu, serta pengawasan distribusi menjadi bagian penting untuk melindungi penerima manfaat, terutama anak-anak.
Di tengah keterbatasan bukti laboratorium untuk memastikan penyebab seluruh kasus, tuntutan perbaikan dan pengawasan menjadi langkah penting agar program pemenuhan gizi tidak justru menghadirkan risiko kesehatan bagi siswa.
Editor: Hanny Wijaya