Wakapolda Semmy Thabaa Dinilai Sangat Layak Jadi Kapolda Papua Barat Daya
SORONG KOTA, iNewsSorongraya.id — Tokoh Intelektual muda Provinsi Papua Barat Daya, Ortis Sagrim, menilai Kombes Pol Semmy Ronny Thabaa sangat layak dipertimbangkan sebagai Kapolda Papua Barat Daya berikutnya. Penilaian itu disampaikan Ortis dalam konteks dorongan afirmasi bagi putra asli Papua di tubuh Polri, terutama di tengah isu pergantian Kapolda Papua Barat Daya, Brigjen Pol. Gatot Haribowo.
Ortis menyebut Semmy yang saat ini menjabat sebagai Wakapolda Papua Barat Daya telah memiliki pengalaman, kesiapan, dan pemahaman wilayah yang cukup untuk memimpin Polda Papua Barat Daya. Namun, ia kembali menegaskan bahwa keputusan akhir tetap menjadi kewenangan Kapolri dan Mabes Polri.
“Kalau saya bukan layak, tapi beliau, Kombes Pol. Semmy Ronny Thabaa, sudah sangat-sangat layak dan siap untuk duduki jabatan Kapolda,” kata Ortis di Sorong, Jumat (5/6/2026).
Menurut Ortis, posisi Wakapolda memberi pengalaman langsung kepada Semmy dalam memahami kerja kepemimpinan di Polda Papua Barat Daya. Ia menyebut Wakapolda kerap menjalankan kewenangan tertentu ketika Kapolda melaksanakan tugas di luar daerah.
“Karena sebagai Wakapolda saja, kita lihat sendiri, tugas tanggung jawab kewenangan dari Kapolda itu sudah pasti dengan sendirinya beliau sudah melaksanakan itu dengan sangat baik, sudah mengerti tugas-tugas yang dijalankan,” ujar Ortis.
Ortis yang juga merupakan Ketua DPR Papua Barat Daya, menilai kesiapan Semmy tidak hanya dilihat dari jabatan formal, tetapi juga dari kemampuannya membaca persoalan di Papua Barat Daya. Menurutnya, seorang Kapolda di wilayah Papua perlu memahami situasi sosial, budaya, dan keamanan masyarakat secara menyeluruh.
“Jadi kalau untuk masalah siap, sudah sangat siap. Dan mungkin saja, mungkin saya sendiri tidak tahu ya, tapi mungkin saja beliau punya angkatan-angkatan yang sudah mungkin sekarang Kapolda. Karena memang sistem promosi ini pun juga tergantung situasi, tergantung keadaan, macam-macam lah,” katanya.
Ia menambahkan, Papua Barat Daya memiliki karakter wilayah yang membutuhkan pendekatan kepolisian secara komprehensif. Provinsi tersebut terdiri atas lima kabupaten dan satu kota, sehingga pemimpin kepolisian harus memahami ragam persoalan di tingkat lokal.
“Jadi sekali lagi saya tegaskan, saya sangat mendukung dari sisi kesiapan beliau, pemahaman, kemudian pengetahuan terhadap lingkungan di wilayah Papua Barat Daya yang terdiri dari lima kabupaten dan satu kota ini,” ujar Ortis.
Ortis juga menilai pendekatan kultural menjadi salah satu alasan penting mengapa putra asli Papua perlu diberi ruang dalam kepemimpinan kepolisian di Tanah Papua. Menurutnya, penyelesaian masalah keamanan di Papua tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan normatif dan prosedural.
“Dan siapnya, pertama, menguasai permasalahan, harus kita punya anak-anak Papua, karena mereka menguasai permasalahan di Tanah Papua. Karena menyelesaikan permasalahan di Tanah Papua tidak mutlak dengan aturan, tapi ada pendekatan-pendekatan tertentu yang hanya orang Papua yang mengerti pendekatan itu,” katanya.
Ia menyebut pendekatan tersebut diperlukan untuk menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat. Dalam pandangan Ortis, kemampuan membaca konteks lokal dapat membantu Polri membangun komunikasi yang lebih efektif dengan masyarakat Papua.
“Supaya bisa juga melihat bagian ini adalah improvement-improvement seperti ini yang kita perlu untuk anak-anak Papua, situ ada di semua tempat, untuk supaya mereka bisa menjaga stabilitas keamanan dan kamtibmas di Tanah Papua ini,” ujar Ortis.
Selain menilai kesiapan Semmy, Ortis juga menyampaikan apresiasi kepada Mabes Polri atas proses kaderisasi putra Papua di institusi kepolisian. Ia menyebut beberapa wilayah di Tanah Papua telah memberi ruang bagi perwira asal Papua untuk menduduki posisi strategis.
“Untuk pihak Polri ya, secara keseluruhan di Tanah Papua, hari ini kita lihat kaderisasi yang dilakukan oleh Mabes Polri, terutama Kapolri, kepada anak-anak Papua, mulai dari Provinsi Papua sendiri, Provinsi Papua Tengah, Provinsi Papua Barat, lalu hari ini Wakapolda di Papua Barat Daya,” katanya.
Ortis berharap kebijakan afirmasi tersebut dapat dipertimbangkan secara lebih merata. Ia menilai Papua Barat Daya juga membutuhkan ruang yang sama dalam proses kaderisasi kepemimpinan di tubuh Polri.
“Soalnya kalau kita bicara SOP, Standar Operasional Prosedur, aturan semua, pasti hari ini anak-anak Papua tidak ada yang tidak bisa. Karena pasti mereka akan menjalankan semua. Sistem itu sama semua, aturan, standar operasinya, semuanya pasti sama semua,” tegasnya.
Meski menyampaikan dukungan terhadap Semmy, Ortis tidak menempatkan pernyataannya sebagai desakan politik kepada Polri. Ia menyebut aspirasi tersebut sebagai masukan publik dari anak-anak Papua yang berharap proses pengisian jabatan Kapolda Papua Barat Daya turut mempertimbangkan aspek afirmasi, pemahaman lokal, dan kebutuhan kamtibmas.
“Kami minta dengan hormat untuk Bapak Kapolri supaya Tanah Papua semua diseragamkan, karena itu adalah bagian keberpihakan Polri terhadap afirmasi. Atau kita punya lekspesialis tersendiri. Begitu kekhususan untuk kami,” ujar Ortis.
Brigjen Pol. Gatot Haribowo saat ini masih menjabat sebagai Kapolda Papua Barat Daya. Ia diketahui lahir pada 1 Juni 1968 dan kini berusia 58 tahun. Dalam ketentuan umum, batas usia pensiun anggota Polri berada pada usia 58 tahun.
Gatot merupakan Kapolda pertama Papua Barat Daya sejak pembentukan Polda Papua Barat Daya pada 2024. Ia memimpin fase awal penguatan organisasi, konsolidasi kelembagaan, serta pembangunan pelayanan kepolisian di provinsi baru tersebut.
Hingga Jumat, 5 Juni 2026, Mabes Polri belum mengumumkan secara resmi nama pengganti Brigjen Pol. Gatot Haribowo. Ortis berharap keputusan yang akan diambil Kapolri dapat membaca kebutuhan strategis Papua Barat Daya sebagai wilayah baru yang memiliki tantangan sosial, budaya, dan keamanan tersendiri.
“Beliau punya pengetahuan yang sudah sangat cukup untuk mengcover wilayah hukum Papua Barat Daya. Jadi saya pribadi sangat mendukung sekali beliau,” pungkas Ortis.
Editor : Hanny Wijaya