Dinilai Lamban, Penanganan Kasus Kematian Prada Jack di Kodam Kasuari Jadi Sorotan
WAISAI, iNewsSorongraya.id – Kematian Prada Jack Yakonias Soor yang diduga akibat penganiayaan oleh para seniornya memicu desakan keras dari keluarga korban.
Didampingi Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBH) Mambowaswar, keluarga menuntut kejelasan hukum dan mengancam membawa perkara ini hingga ke tingkat Presiden Prabowo jika tak kunjung dituntaskan.
Direktur YLBH Mambowaswar, Arfa Poretoka SH., MH., bersama tim kuasa hukum Lambert Dimara SH., resmi memberikan pendampingan penuh kepada keluarga korban. Mereka menilai penanganan kasus sejak kematian pada 20 Desember 2025 berjalan lamban dan tidak transparan.
Dalam keterangan pers, Senin (27/04/2026), Arfa menegaskan hingga kini belum ada kepastian hukum dari instansi terkait, meski kasus telah bergulir lebih dari empat bulan.
"Kami melihat banyak kejanggalan dalam kasus kematian Prada Jack. Padahal, Pangdam Kasuari sebelumnya telah melakukan konferensi pers dan menyebutkan ada sekitar 19 orang [prajurit TNI] yang diperiksa. Namun hingga hari ini, belum ada satu pun orang yang diproses secara hukum," ujar Arfa.
Ia juga menyoroti pernyataan terakhir seorang pejabat Kodam Kasuari pada 28 Februari lalu yang menyebut proses hukum masih berada pada tahap pemberkasan akhir. Menurutnya, durasi penanganan tanpa hasil konkret menimbulkan pertanyaan serius.
Tim hukum dan keluarga menyatakan akan melayangkan surat resmi kepada Pangdam Kasuari, Panglima TNI, hingga Komisi III DPR RI guna menuntut transparansi. Mereka menegaskan tidak menutup kemungkinan membawa kasus ini ke Presiden.
"Kami mendesak agar Pangdam Kasuari memberikan kejelasan, tahapan proses ini sudah sejauh mana. Kami meminta agar kasus ini terbuka untuk publik dan masyarakat, terutama bagi keluarga yang sudah kehilangan anggota keluarganya," tegasnya.
Keluarga korban menaruh harapan agar perkara ini diusut tuntas secara terbuka. Ayah almarhum, Yacob Soor, meminta penyelesaian dilakukan melalui hukum negara dan adat.
"Saya berharap kasus ini diselesaikan secara hukum adat maupun hukum negara. Harus ada denda adat yang dibayarkan sebagai bentuk tanggung jawab," ujarnya dengan suara berat.
Ia juga menuntut sanksi maksimal terhadap pelaku jika terbukti bersalah.
"Setelah diselesaikan secara adat, para pelaku harus segera dipecat dari institusi dan dihukum seumur hidup. Kalau keadilan sudah ditegakkan seperti itu, barulah hati saya bisa tenang dan bisa ikhlas melepas kepergian anak saya," tegasnya.
Dalam pertemuan tersebut, istri, ayah, dan kakak korban turut menyampaikan kesaksian serta harapan agar proses hukum berjalan adil sesuai peraturan perundang-undangan.
Sebelumnya diberitakan, kematian Prada Jack menyisakan tanda tanya besar. Prajurit muda dari Brigade Infanteri 26 Gurana Piarawaimo itu dilaporkan meninggal saat bertugas di Kabupaten Teluk Bintuni pada Sabtu, 20 Desember 2025 tahun lalu. Jenazah ditemukan dengan sejumlah luka memar dan dugaan luka tusukan benda tajam.
Kakak korban, Epa Nicodemus Soor, mengungkap keluarga menerima kabar kematian tanpa penjelasan rinci.
“Hari ini kita dapat informasi dari satuannya bahwa adik kami sudah tidak ada. Tidak lama kemudian kami dikirimi foto-foto. Kami semua kaget, kenapa meninggal tapi ada bekas-bekas luka. Ada memar di punggung, lalu ada seperti luka tusukan pisau di tangan adik kami,” kata Epa.
Ia menegaskan keluarga belum mengetahui kronologi kejadian hingga kini.
“Kita tidak puas. Penyebab kematian adik kami apa, itu yang kami tidak tahu. Kami hanya mau tahu kronologisnya, adik kami meninggal seperti apa,” ujarnya.
Epa juga menyoroti tidak adanya penjelasan resmi saat jenazah diserahkan kepada keluarga.
“Yang paling menyedihkan, jenazah adik kami tiba di sini hanya diserahkan begitu saja. Sama sekali tidak ada penjelasan soal kematiannya. Ini sangat aneh. Kami hanya menuntut keadilan. Kalau dia dianiaya, karena apa dan oleh siapa, itu harus jelas,” tegasnya.
Ayah korban menilai kematian anak bungsunya sebagai pukulan berat bagi keluarga.
“Saya tidak puas anak saya meninggal dengan cara begini. Kami hanya dapat kabar dari atasannya kalau dia sudah meninggal. Tidak ada penjelasan penyebabnya. Kami kaget sekali. Kami hanya mau keadilan,” kata Yacob.
Ia mengenang almarhum sebagai sosok bertanggung jawab dan peduli keluarga.
“Jack pernah telepon bilang mau kasih bapa dan mama uang satu juta rupiah. Tapi bapa marah dan bilang, pakai saja untuk hidup di Bintuni, apalagi calon istrinya sering datang,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Brigade Infanteri 26 Gurana Piarawaimo maupun institusi TNI AD terkait penyebab kematian tersebut. Ketiadaan keterangan terbuka memperkuat tekanan publik agar kasus ini diusut secara transparan dan akuntabel.
Kasus ini menambah sorotan terhadap dugaan kekerasan internal di lingkungan militer. Keluarga berharap negara segera membuka fakta dan menegakkan keadilan atas kematian Prada Jack Yakonias Soor.
Editor : Chanry Suripatty