Valentin Bless, Guru Muda Asli Papua yang Jatuh Cinta pada Ruang Kelas Anak Berkebutuhan Khusus

CHANRY SURIPATTY
Kisah pengabdian Valentin Tris Bless, Tenaga pendidik anak-anak berkebutuhan khusus di SDLB Inpres 73 Kota Sorong.

 

SORONG KOTA, iNewssorongraya.id — Di balik senyum lembut seorang guru muda bernama Valentin Tris Bless, ada kisah pengabdian yang tumbuh pelan namun kuat: cinta pada profesi yang menuntut kesabaran, empati, dan ketulusan. Pada usia 22 tahun, perempuan asli Papua ini memilih berada di ruang kelas yang sering dianggap “tidak mudah”, yakni ruang belajar bagi anak-anak berkebutuhan khusus di SDLB Inpres 73 Kota Sorong.

Keputusan itu bukan sekadar pilihan pekerjaan. Ia adalah perjalanan batin—sebuah panggilan yang membuat Valen, begitu ia disapa, merasa menemukan rumah.

“Saya sangat bersyukur berada di lingkungan SLB. Di sini saya diajarkan banyak kasih dan kesabaran. Akhirnya, saya sudah jatuh cinta dengan sekolah luar biasa ini, dan tidak ingin kembali ke sekolah reguler,” ujarnya lembut dalam perbincangan dengan Pemred iNewssorongraya.id.

Valen baru enam bulan mengajar ketika ditemui selepas pembukaan Workshop Pembelajaran Kekhususan bagi Tenaga Pendidik. Namun waktu singkat itu cukup untuk mengubah cara pandangnya tentang dunia pendidikan.

Ia mengaku datang dari latar belakang berbeda. “Saya bukan dari bidang PLB. Saya lulusan Matematika Universitas Muhammadiyah Sorong. Tidak pernah terbayang saya harus menghafal bahasa isyarat dan belajar berkomunikasi dengan anak hambatan pendengaran,” tuturnya.

Proses adaptasi itu tidak sederhana. Setiap hari Valen belajar abjad tangan A sampai Z, mempraktikkan berbagai gerakan, hingga akhirnya bisa memahami kebutuhan siswanya.

Mendidik anak berkebutuhan khusus berarti menghadapi pola belajar yang tidak seragam. Valen memahami hal itu dari hari pertama ia mengajar.

“Ada anak yang hanya mampu menghafal abjad sampai G. Besoknya ditanya lagi sudah lupa. Jadi sepanjang minggu kita ulang hal yang sama, angka yang sama, huruf yang sama,” jelasnya.

Namun ia tidak melihat itu sebagai beban. Justru di situlah ia merasa semakin terasah sebagai pendidik.

“Mereka punya kekurangan, tetapi mereka juga punya kelebihan. Itu membuat saya lebih sabar dan menghargai proses,” katanya.

Di sekolahnya, Valen memegang dua murid autis di jenjang kelas 2 dan 3. Ia memahami bahwa pendekatan pada anak autis membutuhkan intensitas dan ruang yang berbeda.

“Di PLB, anak autis minimal satu guru satu anak. Itu tidak bisa lebih,” ungkapnya.
“Metode pengajarannya juga sendiri, di ruangan sendiri. Tapi puji Tuhan, sampai hari ini saya tetap enjoy dan menikmati pengabdian ini,”tambahnya.

Tidak hanya fokus pada murid berkebutuhan khusus, Valen juga membangun pemahaman di antara siswa lainnya. Pendidikan inklusif, menurutnya, harus dimulai dari empati.

“Kita kasih pengertian ke anak-anak lain supaya mereka tahu bahwa teman mereka perlu dijaga, bukan dijauhi,” terangnya.

Pendekatan itu membuahkan hasil. Kelas menjadi lebih hangat, anak-anak saling membantu tanpa merasa terpaksa, dan suasana belajar semakin ramah.

Valen berharap kisahnya dapat menginspirasi generasi muda Papua untuk ikut terjun dalam pendidikan anak berkebutuhan khusus.

“Saya berharap anak-anak muda asli Papua bisa mengikuti jejak saya. Karena tugas ini bukan hanya mengajar, tapi mendidik dengan hati,” pesannya.

Ia juga menitipkan harapan kepada pemerintah daerah. “Guru-guru harus lebih diperhatikan, karena kami yang berhadapan langsung di lapangan. Kelengkapan pembelajaran perlu ditingkatkan agar metode pengajaran semakin optimal,” tutupnya.

Enam bulan mungkin masih awal dari perjalanan panjang Valen sebagai pendidik. Namun apa yang ia lakukan menunjukkan satu hal: kemanusiaan adalah inti dari pendidikan. Dalam ruang kecil yang ia jaga setiap hari, Valen bukan hanya mengajar membaca atau berhitung. Ia menanamkan rasa aman, penerimaan, dan cinta—nilai yang sering hilang dari banyak ruang kelas.

Di Sorong, cerita seorang perempuan muda Papua membuka mata bahwa pendidikan luar biasa tidak hanya tentang murid, tetapi juga tentang guru yang memilih untuk tidak menyerah.

Editor : Hanny Wijaya

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network