Petaka Raja Ampat: 190 Ha Hutan Hangus, Habitat Cenderawasih Kian Kritis
RAJA AMPAT, iNewssoraya.id – Bencana ekologi berskala besar menghantam kawasan konservasi di Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat Daya. Kebakaran hebat telah melahap lebih dari 190 hektare lahan di Hutan Warkesi, yang secara langsung mengancam habitat alami satwa endemik dunia, yakni Cenderawasih Merah (Red Bird of Paradise) dan Cenderawasih Wilson (Wilson Bird of Paradise).
Hutan Warkesi merupakan situs Cagar Biosfer sekaligus biosite Geopark Raja Ampat yang menjadi destinasi pengamatan burung (bird watching) kelas internasional. Tragedi lingkungan ini memicu kekhawatiran serius terhadap kelestarian alam dan roda ekonomi masyarakat lokal. Paparan asap tebal dan suhu ekstrem akibat rambatan api membuat satwa langka tersebut mulai kehilangan ruang hidup idealnya.
Menghadapi krisis ini, tim gabungan dari Kelompok Tani Hutan (KTH) Warkesi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan lembaga Fauna & Flora International berjibaku menyekat kobaran api. Namun, keterbatasan personel dan minimnya alat pemadam kebakaran menjadi kendala krusial di lapangan.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Papua Barat Daya, Yusdi Lamatenggo, menegaskan bahwa pemerintah daerah telah bergerak cepat untuk menangani krisis di area konservasi tersebut.
"Memang sejak melihat laporan dari teman-teman KTH tentang kondisi di sini, kita pasti prihatin. Sebagai pemerintah, lewat arahan bupati dan gubernur, kita menggandeng semua mitra untuk menjaga habitat Warkesi," ujar Yusdi, Sabtu (17/10/2026).
Ia menyoroti nilai strategis kawasan Warkesi yang merupakan kelompok binaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan urat nadi pariwisata daerah.
"Kawasan ini bernilai internasional. Jika sampai tutup akibat kebakaran hutan, berarti tidak ada pendapatan yang masuk bagi kelompok tani hutan setempat. Paparan asap dan suhu panas juga diduga membuat cenderawasih mengurangi aktivitas menarinya," jelas Yusdi.
Sebagai langkah mitigasi mencegah kelaparan pada burung endemik, para pengelola wisata langsung mengambil tindakan darurat di area observasi.
"Kami berupaya mempertahankan aktivitas pengamatan burung dengan menyediakan tempat makan dan minum. Kami bersyukur teman-teman dari KTH, BKSDA, Universitas Papua, dan warga Sorong turut membantu menyelamatkan satu-satunya lokasi ekowisata terdekat ini," kata Programmer Tanah Papua Fauna & Flora International, Irma Herwanti.
Di ranah penegakan hukum, aparat kepolisian bertindak cepat dan tajam untuk mengusut indikasi kesengajaan dalam musibah ini. Jajaran Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor (Polres) Raja Ampat kini telah mengamankan satu terduga pelaku pembakaran hutan dan lahan (karhutla).
Wakapolres Raja Ampat, AKP Muhadi, memastikan proses hukum akan berjalan tegas tanpa kompromi.
"Kami sudah menerima laporan dan sementara memeriksa terduga pelaku sebagai saksi. Kami akan berkoordinasi dengan saksi ahli untuk langkah-langkah selanjutnya, yakni menaikkan status dari penyelidikan menjadi penyidikan," tegas AKP Muhadi.
Kabupaten Raja Ampat adalah benteng pertahanan bagi 258 spesies burung, di mana enam di antaranya adalah endemik langka. Penegakan hukum yang keras wajib ditegakkan untuk memberikan efek jera bagi para perusak alam. Tanpa langkah konkret dan perlindungan habitat yang masif, pesona tarian Cenderawasih di Hutan Warkesi terancam hanya akan menjadi sejarah usang yang terkubur bersama abu kebakaran.
Editor: Chanry Suripatty